PELATIHAN PERUSAHAAN DAN INDUSTRI

Training Climate Risk Management 2026/2027: Identifikasi, Pengukuran, Mitigasi, dan Scenario Analysis Risiko Iklim bagi Perusahaan

Perubahan iklim tidak lagi hanya menjadi isu lingkungan. Bagi dunia usaha, perubahan pola cuaca, kenaikan suhu, perubahan curah hujan, banjir, kekeringan, kenaikan permukaan laut, kebakaran hutan, serta perubahan kebijakan menuju ekonomi rendah karbon dapat memengaruhi operasional, rantai pasok, aset, biaya, pendapatan, pembiayaan, hingga reputasi perusahaan.

Karena itu, risiko iklim semakin relevan untuk dimasukkan ke dalam kerangka Enterprise Risk Management (ERM).

Perusahaan yang memiliki aset di wilayah rawan banjir, misalnya, dapat menghadapi gangguan operasional ketika terjadi cuaca ekstrem. Perusahaan yang bergantung pada bahan baku pertanian dapat mengalami volatilitas pasokan akibat perubahan pola hujan. Perusahaan yang menggunakan energi intensif juga dapat menghadapi risiko transisi ketika kebijakan lingkungan dan preferensi pasar berubah.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa climate risk bukan hanya persoalan keberlanjutan. Climate risk dapat berkembang menjadi risiko finansial, operasional, strategis, supply chain, reputasi, dan kepatuhan.

Di sinilah Training Climate Risk Management 2026/2027 menjadi relevan bagi perusahaan yang ingin memahami bagaimana risiko iklim dapat diidentifikasi, diukur, dimitigasi, dimonitor, serta dianalisis menggunakan pendekatan scenario analysis.


Apa Itu Climate Risk Management?

Climate Risk Management adalah pendekatan sistematis untuk memahami, menilai, mengelola, memonitor, dan mengomunikasikan risiko yang timbul akibat perubahan iklim serta respons terhadap perubahan menuju ekonomi rendah karbon.

Secara umum, climate risk dapat dikelompokkan menjadi dua kategori besar:

  1. Physical Risk
  2. Transition Risk

Physical risk berkaitan dengan dampak fisik perubahan iklim terhadap perusahaan.

Transition risk berkaitan dengan perubahan ekonomi, teknologi, regulasi, pasar, dan perilaku stakeholder sebagai respons terhadap perubahan iklim.

Keduanya dapat memengaruhi kondisi finansial perusahaan.


Mengapa Climate Risk Penting bagi Perusahaan pada 2026/2027?

Perubahan iklim dapat memengaruhi hampir seluruh rantai nilai perusahaan.

Beberapa contoh dampaknya antara lain:

  • kerusakan aset akibat banjir;
  • gangguan produksi akibat suhu ekstrem;
  • kekurangan air;
  • gangguan transportasi;
  • kelangkaan bahan baku;
  • kenaikan biaya energi;
  • perubahan harga komoditas;
  • perubahan regulasi;
  • carbon pricing;
  • perubahan preferensi konsumen;
  • meningkatnya tuntutan investor;
  • perubahan teknologi;
  • risiko reputasi.

Perusahaan yang tidak memahami exposure terhadap risiko tersebut dapat kesulitan mengantisipasi dampaknya.

Sebaliknya, perusahaan yang memasukkan climate risk ke dalam ERM dapat memiliki dasar yang lebih baik untuk mengambil keputusan investasi, operasional, pembiayaan, dan strategi.


Physical Risk dan Transition Risk

Perbedaan kedua kategori tersebut penting untuk dipahami.

Jenis Risiko Pengertian Contoh
Physical Risk Risiko akibat dampak fisik perubahan iklim Banjir, kekeringan, gelombang panas
Transition Risk Risiko akibat transisi menuju ekonomi rendah karbon Regulasi, teknologi, carbon pricing

Keduanya dapat terjadi secara bersamaan.

Misalnya, perusahaan manufaktur dapat menghadapi banjir yang mengganggu pabrik sekaligus menghadapi peningkatan biaya karena perubahan kebijakan energi.


Apa Itu Physical Climate Risk?

Physical climate risk merupakan risiko yang berasal dari perubahan kondisi fisik iklim.

Risiko ini dapat bersifat:

Acute Physical Risk

Risiko yang berasal dari kejadian ekstrem dan terjadi dalam periode relatif singkat.

Contohnya:

  • banjir;
  • badai;
  • hujan ekstrem;
  • kebakaran hutan;
  • siklon;
  • gelombang panas.

Chronic Physical Risk

Risiko yang berkembang secara bertahap dalam jangka panjang.

Contohnya:

  • kenaikan temperatur;
  • kenaikan permukaan laut;
  • perubahan pola curah hujan;
  • kekeringan berkepanjangan;
  • perubahan kondisi ekosistem.

Perusahaan perlu mempertimbangkan keduanya dalam risk assessment.


Contoh Dampak Physical Risk

Bayangkan perusahaan memiliki fasilitas produksi di wilayah yang memiliki potensi banjir.

Ketika banjir terjadi:

Banjir → Akses terganggu → Produksi berhenti → Pengiriman terlambat → Pendapatan terdampak

Dampaknya tidak berhenti pada kerusakan fisik.

Perusahaan juga dapat mengalami:

  • kehilangan produktivitas;
  • biaya perbaikan;
  • kehilangan pelanggan;
  • biaya logistik tambahan;
  • gangguan supply chain.

Ini menunjukkan bahwa physical climate risk dapat berubah menjadi risiko finansial.


Apa Itu Transition Risk?

Transition risk muncul akibat perubahan menuju ekonomi yang lebih rendah karbon.

Perubahan tersebut dapat berasal dari:

  • regulasi;
  • kebijakan pemerintah;
  • teknologi;
  • perubahan pasar;
  • perubahan perilaku konsumen;
  • tekanan investor;
  • tuntutan stakeholder.

Contohnya, perusahaan yang sangat bergantung pada teknologi atau energi intensif karbon dapat menghadapi peningkatan biaya ketika standar emisi semakin ketat.


Jenis Transition Risk

Policy and Legal Risk

Perubahan kebijakan dan regulasi dapat meningkatkan biaya atau mengubah proses bisnis.

Technology Risk

Teknologi baru dapat membuat teknologi lama menjadi kurang kompetitif.

Market Risk

Permintaan konsumen dapat berubah.

Reputation Risk

Perusahaan dapat menghadapi tekanan reputasi apabila dianggap tidak serius menangani dampak lingkungan.

Financial Risk

Perubahan biaya, pendapatan, aset, atau pembiayaan dapat memengaruhi kinerja keuangan.


Climate Risk dan Enterprise Risk Management

Climate risk sebaiknya tidak dikelola sebagai isu yang berdiri sendiri.

Risiko iklim dapat dimasukkan ke dalam:

  • strategic risk;
  • operational risk;
  • financial risk;
  • credit risk;
  • market risk;
  • liquidity risk;
  • supply chain risk;
  • reputational risk;
  • compliance risk.

Pendekatan tersebut membantu perusahaan memahami transmission channel dari climate risk menjadi risiko bisnis.

Contohnya:

Climate Hazard → Business Disruption → Revenue Loss → Cash Flow Impact


Climate Risk Identification

Langkah pertama adalah mengidentifikasi climate risk.

Perusahaan perlu mengetahui:

  • lokasi aset;
  • aktivitas bisnis;
  • supply chain;
  • penggunaan energi;
  • ketergantungan sumber daya;
  • eksposur terhadap regulasi;
  • kebutuhan air;
  • kebutuhan bahan baku;
  • ketergantungan pada infrastruktur.

Identifikasi sebaiknya dilakukan berdasarkan aset dan aktivitas yang nyata.


Climate Risk Exposure

Exposure menunjukkan seberapa besar perusahaan terpapar terhadap suatu risiko.

Misalnya:

Perusahaan A memiliki lima fasilitas.

Fasilitas Risiko Banjir Risiko Kekeringan Risiko Panas Ekstrem
Pabrik A Tinggi Sedang Sedang
Pabrik B Rendah Tinggi Tinggi
Gudang C Tinggi Rendah Sedang
Kantor D Rendah Rendah Sedang

Pemetaan seperti ini membantu perusahaan menentukan prioritas.


Climate Vulnerability

Exposure saja belum cukup.

Perusahaan juga perlu memahami vulnerability.

Dua perusahaan dapat memiliki exposure yang sama tetapi dampaknya berbeda karena tingkat kerentanannya berbeda.

Faktor vulnerability dapat mencakup:

  • desain fasilitas;
  • kualitas infrastruktur;
  • business continuity;
  • emergency response;
  • insurance;
  • supplier diversification;
  • backup facility.

Climate Risk Assessment

Climate risk assessment dapat menggunakan pendekatan:

Hazard × Exposure × Vulnerability

Semakin tinggi ketiganya, semakin tinggi potensi risiko.

Perusahaan dapat membuat scoring sederhana:

Parameter Skor 1 Skor 3 Skor 5
Hazard Rendah Sedang Tinggi
Exposure Rendah Sedang Tinggi
Vulnerability Rendah Sedang Tinggi

Hasilnya dapat digunakan untuk menentukan prioritas mitigasi.


Climate Risk Register

Climate risk register dapat memuat:

  • climate hazard;
  • lokasi;
  • asset;
  • exposure;
  • vulnerability;
  • financial impact;
  • operational impact;
  • existing control;
  • mitigation;
  • risk owner;
  • monitoring indicator.

Contoh:

Climate Risk Dampak Level Mitigasi
Banjir Operasional berhenti Tinggi Flood protection
Kekeringan Kekurangan air Tinggi Water efficiency
Heatwave Produktivitas turun Sedang Cooling system
Regulasi emisi Biaya meningkat Tinggi Transition plan

Climate Scenario Analysis

Salah satu materi penting dalam Training Climate Risk Management 2026/2027 adalah Climate Scenario Analysis.

Scenario analysis digunakan untuk mengeksplorasi bagaimana perusahaan dapat terdampak di bawah kondisi iklim dan transisi yang berbeda.

Scenario analysis bukan prediksi masa depan secara pasti.

Tujuannya adalah membantu perusahaan menjawab:

“Apa yang mungkin terjadi jika kondisi tertentu terjadi?”


Mengapa Scenario Analysis Penting?

Masa depan memiliki ketidakpastian tinggi.

Perusahaan tidak dapat mengetahui secara pasti:

  • seberapa cepat kebijakan berubah;
  • seberapa cepat teknologi berkembang;
  • bagaimana harga energi berubah;
  • bagaimana cuaca ekstrem berkembang;
  • bagaimana konsumen bereaksi.

Scenario analysis memungkinkan manajemen menguji ketahanan strategi di bawah berbagai kemungkinan.


Horizon Waktu dalam Scenario Analysis

Scenario analysis dapat menggunakan beberapa horizon.

Short Term

Biasanya digunakan untuk memahami risiko yang relatif dekat dengan operasional.

Medium Term

Digunakan untuk keputusan investasi dan strategi.

Long Term

Digunakan untuk memahami perubahan struktural.

Pemilihan horizon harus disesuaikan dengan karakteristik bisnis dan umur aset.


Climate Scenario

Scenario dapat dibuat berdasarkan berbagai asumsi.

Contohnya:

Scenario Karakteristik
Orderly Transition Transisi lebih bertahap dan terencana
Disorderly Transition Transisi lebih cepat setelah terjadi keterlambatan
High Physical Risk Dampak fisik iklim relatif tinggi

Scenario tidak harus diperlakukan sebagai ramalan.

Yang lebih penting adalah menguji resilience perusahaan.


Climate Scenario Analysis untuk Perusahaan Energi

Perusahaan energi dapat menguji:

  • perubahan demand;
  • perubahan harga energi;
  • biaya teknologi;
  • kebijakan emisi;
  • investasi renewable;
  • carbon pricing.

Pertanyaan yang dapat digunakan:

Bagaimana EBITDA perusahaan berubah jika biaya karbon meningkat?

Bagaimana investasi berubah jika teknologi rendah karbon menjadi lebih kompetitif?


Climate Scenario Analysis untuk Manufaktur

Perusahaan manufaktur dapat menguji:

  • gangguan produksi;
  • biaya energi;
  • ketersediaan air;
  • supply chain;
  • perubahan permintaan.

Contohnya:

Bagaimana jika terjadi kenaikan temperatur rata-rata dan gelombang panas semakin sering?

Dampaknya dapat diterjemahkan menjadi:

Temperature Increase → Productivity Loss → Production Decline → Revenue Impact


Climate Scenario Analysis untuk Perbankan

Sektor keuangan dapat menghadapi climate risk melalui portofolio nasabah.

Misalnya:

Nasabah sektor pertanian mengalami kekeringan.

Dampaknya:

Crop Failure → Revenue Decline → Debt Service Pressure → Credit Risk

Dengan demikian, climate risk dapat menjadi faktor yang memengaruhi risiko kredit.


Climate Risk dan Supply Chain

Supply chain merupakan salah satu area penting.

Perusahaan mungkin tidak memiliki aset di lokasi rawan, tetapi supplier-nya memiliki fasilitas di lokasi tersebut.

Contohnya:

Supplier Plant → Flood → Production Stop → Raw Material Shortage → Company Disruption

Karena itu, climate risk assessment perlu mempertimbangkan:

  • supplier;
  • logistics;
  • transportation;
  • warehouses;
  • critical materials.

Climate Risk dan Business Continuity

Climate risk juga berhubungan dengan Business Continuity Management.

Perusahaan perlu menyiapkan:

  • alternative supplier;
  • backup facility;
  • emergency response;
  • business continuity plan;
  • inventory buffer;
  • alternative logistics.

Integrasi climate risk dengan BCM membuat organisasi lebih siap menghadapi kejadian ekstrem.


Climate Risk dan Asset Management

Aset berumur panjang perlu diperhatikan secara khusus.

Contohnya:

  • pembangkit;
  • pabrik;
  • gedung;
  • gudang;
  • infrastruktur;
  • jaringan distribusi.

Ketika membeli aset baru, perusahaan sebaiknya mempertimbangkan kondisi iklim jangka panjang.


Climate Risk dalam Investment Decision

Climate risk dapat dimasukkan ke dalam capital expenditure.

Sebelum investasi dilakukan, perusahaan dapat menilai:

  • climate exposure;
  • asset vulnerability;
  • future regulatory risk;
  • energy cost;
  • adaptation cost.

Dengan demikian, keputusan investasi tidak hanya berdasarkan return finansial jangka pendek.


Climate Adaptation

Adaptation merupakan tindakan untuk mengurangi dampak physical climate risk.

Contohnya:

  • memperkuat infrastruktur;
  • memperbaiki drainase;
  • meningkatkan kapasitas pendinginan;
  • diversifikasi sumber air;
  • meningkatkan ketahanan fasilitas;
  • memindahkan aset;
  • membuat backup facility.

Adaptasi harus disesuaikan dengan tingkat risiko.


Climate Mitigation

Mitigation berfokus pada pengurangan emisi atau kontribusi terhadap perubahan iklim.

Contohnya:

  • efisiensi energi;
  • renewable energy;
  • elektrifikasi;
  • pengurangan penggunaan bahan bakar fosil;
  • perubahan proses produksi;
  • pengurangan waste.

Adaptation dan mitigation merupakan dua pendekatan yang berbeda tetapi saling melengkapi.


Climate Risk dan Carbon Management

Carbon management semakin relevan bagi perusahaan.

Organisasi perlu memahami:

  • sumber emisi;
  • energy consumption;
  • emissions intensity;
  • reduction opportunities.

Data emisi juga dapat membantu perusahaan memahami exposure terhadap transition risk.


Climate Risk dan Carbon Pricing

Jika carbon pricing diterapkan atau meningkat, perusahaan dengan emisi tinggi dapat mengalami peningkatan biaya.

Scenario analysis dapat digunakan untuk menguji:

Bagaimana perubahan harga karbon memengaruhi biaya operasional?

Contohnya:

Emissions × Carbon Price = Potential Carbon Cost

Perhitungan dapat dikembangkan sesuai struktur emisi perusahaan.


Climate Risk dan Financial Impact

Climate risk perlu diterjemahkan menjadi bahasa yang dipahami manajemen.

Jangan berhenti pada:

“Risiko banjir tinggi.”

Tetapi lanjutkan:

“Banjir dapat menghentikan operasi selama X hari dan berpotensi memengaruhi revenue, operating cost, serta cash flow.”

Dampak dapat mencakup:

  • revenue;
  • operating expenses;
  • capex;
  • asset value;
  • cash flow;
  • financing cost.

Climate Risk Metrics

Beberapa indikator yang dapat digunakan:

  • jumlah aset di wilayah berisiko;
  • exposure terhadap physical risk;
  • energy intensity;
  • emissions intensity;
  • water dependency;
  • climate-related incidents;
  • supplier exposure;
  • adaptation investment.

KPI dan KRI perlu disesuaikan dengan sektor.


Climate Risk Dashboard

Dashboard membantu manajemen melihat risiko secara cepat.

Contoh:

Indikator Status
High-risk assets 12
Climate incidents 4
Critical suppliers exposed 8
Adaptation projects 6
Energy intensity Menurun
Emission intensity Perlu perhatian

Dashboard dapat dikembangkan menjadi bagian dari enterprise risk dashboard.


Climate Risk Governance

Climate risk membutuhkan governance yang jelas.

Pertanyaan penting:

  • siapa risk owner?
  • siapa melakukan assessment?
  • siapa menetapkan strategi?
  • siapa memonitor?
  • siapa melaporkan kepada Direksi?
  • bagaimana climate risk masuk ke ERM?

Pembagian tanggung jawab yang jelas akan meningkatkan akuntabilitas.


Peran Direksi dan Manajemen

Direksi dan manajemen perlu memastikan climate risk dipertimbangkan dalam keputusan strategis.

Contohnya:

  • investasi;
  • ekspansi;
  • lokasi fasilitas;
  • supply chain;
  • pembiayaan;
  • product strategy.

Climate risk tidak seharusnya hanya menjadi agenda sustainability department.


Integrasi Climate Risk dengan ERM

Integrasi dapat dilakukan melalui:

Climate Risk Identification → Risk Assessment → ERM Register → Risk Appetite → Mitigation → Monitoring → Reporting

Dengan pendekatan tersebut, climate risk menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan organisasi.


Climate Risk dan ESG

Climate risk juga berkaitan erat dengan ESG.

Namun, climate risk management memiliki fokus khusus pada risiko yang dapat memengaruhi bisnis.

ESG memiliki cakupan lebih luas, sementara climate risk dapat menjadi salah satu komponen utama dalam environmental risk.


Contoh Kasus Nyata: Banjir dan Gangguan Operasional

Berbagai perusahaan di dunia telah mengalami gangguan operasional akibat kejadian cuaca ekstrem dan bencana terkait iklim.

Sebagai contoh ilustratif, perusahaan manufaktur yang memiliki fasilitas di daerah rawan banjir dapat mengalami:

  • penghentian produksi;
  • kerusakan mesin;
  • keterlambatan pengiriman;
  • gangguan tenaga kerja;
  • peningkatan biaya perbaikan.

Jika perusahaan telah melakukan climate scenario analysis, manajemen dapat menguji ketahanan fasilitas sebelum kejadian terjadi.

Mitigasi dapat berupa:

  • flood barrier;
  • peningkatan drainase;
  • emergency plan;
  • alternative production site;
  • insurance;
  • supplier diversification.

Contoh Kasus: Kekeringan pada Industri Berbasis Air

Perusahaan yang membutuhkan air dalam jumlah besar menghadapi risiko ketika terjadi kekeringan.

Dampak potensial:

Water Scarcity → Production Constraint → Output Decline → Revenue Impact

Mitigasi dapat mencakup:

  • water efficiency;
  • recycling;
  • alternative water source;
  • operational adjustment;
  • supplier diversification.

Contoh Kasus: Transition Risk pada Industri Intensif Energi

Perusahaan yang sangat bergantung pada energi fosil dapat menghadapi perubahan biaya ketika kebijakan rendah karbon berkembang.

Manajemen dapat melakukan scenario analysis:

Scenario A: transisi bertahap.

Scenario B: transisi lebih cepat.

Scenario C: perubahan teknologi lebih cepat dari perkiraan.

Kemudian perusahaan menghitung dampaknya terhadap:

  • operating cost;
  • capex;
  • margin;
  • competitiveness.

Kesalahan Umum dalam Climate Risk Management

Menganggap Climate Risk Hanya Urusan Sustainability

Padahal climate risk dapat berdampak langsung terhadap operasional dan finansial.

Tidak Menggunakan Scenario Analysis

Perusahaan hanya melihat kondisi historis.

Tidak Memetakan Aset

Risiko fisik sangat bergantung pada lokasi.

Mengabaikan Supply Chain

Supplier juga memiliki exposure.

Tidak Menghubungkan Risiko dengan Finansial

Risiko tidak diterjemahkan menjadi dampak bisnis.

Tidak Ada Risk Owner

Tidak jelas siapa yang bertanggung jawab.

Hanya Fokus pada Emisi

Climate risk bukan hanya carbon emissions.

Physical risk dan transition risk juga harus diperhatikan.


Strategi Implementasi Climate Risk Management

Implementasi dapat dilakukan secara bertahap.

Tahap Pertama: Governance

Tentukan struktur dan tanggung jawab.

Tahap Kedua: Risk Identification

Identifikasi physical dan transition risk.

Tahap Ketiga: Exposure Mapping

Petakan aset, lokasi, supplier, dan proses bisnis.

Tahap Keempat: Risk Assessment

Nilai hazard, exposure, vulnerability, dan impact.

Tahap Kelima: Scenario Analysis

Uji ketahanan perusahaan dalam berbagai skenario.

Tahap Keenam: Mitigation

Tentukan adaptation dan transition strategy.

Tahap Ketujuh: Monitoring

Tetapkan KPI, KRI, dashboard, dan threshold.

Tahap Kedelapan: Reporting

Sampaikan hasil kepada manajemen dan stakeholder terkait.

Tahap Kesembilan: Continuous Improvement

Perbarui assessment berdasarkan data dan perubahan kondisi.


Training Climate Risk Management 2026/2027

Training Climate Risk Management 2026/2027 dirancang untuk membantu peserta memahami pendekatan praktis dalam mengelola risiko iklim.

Materi dapat mencakup:

  • konsep climate risk;
  • physical risk;
  • transition risk;
  • climate risk identification;
  • exposure mapping;
  • vulnerability assessment;
  • climate risk assessment;
  • climate risk register;
  • climate scenario analysis;
  • climate stress testing;
  • climate adaptation;
  • climate mitigation;
  • carbon risk;
  • supply chain climate risk;
  • climate risk governance;
  • climate risk metrics;
  • climate dashboard;
  • climate risk reporting;
  • integrasi dengan ERM;
  • studi kasus industri.

Manfaat Mengikuti Training Climate Risk Management

Peserta dapat memperoleh kemampuan untuk:

  • memahami konsep climate risk;
  • membedakan physical dan transition risk;
  • mengidentifikasi climate exposure;
  • melakukan vulnerability assessment;
  • menyusun climate risk register;
  • melakukan climate scenario analysis;
  • memahami climate stress testing;
  • menyusun strategi mitigasi;
  • mengembangkan climate risk dashboard;
  • mengintegrasikan climate risk dengan ERM;
  • memahami dampak risiko iklim terhadap finansial dan operasional.

Siapa yang Cocok Mengikuti Training?

Training ini relevan bagi:

  • Direksi;
  • manajemen;
  • risk management;
  • sustainability;
  • ESG;
  • finance;
  • investment;
  • strategy;
  • operations;
  • supply chain;
  • procurement;
  • asset management;
  • compliance;
  • internal audit;
  • business continuity;
  • corporate planning.

Program juga dapat disesuaikan dengan sektor industri, termasuk:

  • manufaktur;
  • energi;
  • pertambangan;
  • perkebunan;
  • perbankan;
  • asuransi;
  • konstruksi;
  • properti;
  • transportasi;
  • logistik;
  • perusahaan publik.

Metode Training

Pelatihan dapat menggunakan pendekatan praktis melalui:

  • presentasi;
  • diskusi;
  • studi kasus;
  • workshop;
  • climate risk assessment;
  • exposure mapping;
  • scenario analysis;
  • stress testing;
  • penyusunan climate risk register;
  • penyusunan mitigation plan.

Dengan metode tersebut, peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mendapatkan gambaran bagaimana climate risk dapat diterapkan dalam proses manajemen risiko perusahaan.


Fasilitas Training

Fasilitas pelatihan dapat meliputi:

  • materi pelatihan;
  • modul pembelajaran;
  • studi kasus;
  • workshop;
  • simulasi;
  • diskusi interaktif;
  • sertifikat peserta;
  • dokumentasi kegiatan;
  • sesi konsultasi sesuai kebutuhan.

Training juga dapat diselenggarakan dalam format in-house training sehingga studi kasus dan materi dapat disesuaikan dengan sektor serta kebutuhan perusahaan.


Mengukur Efektivitas Climate Risk Management

Perusahaan perlu memiliki indikator untuk mengetahui apakah framework telah berjalan.

Contohnya:

Indikator Tujuan
Climate Risk Assessment Coverage Mengetahui cakupan assessment
High-Risk Asset Exposure Mengukur aset berisiko
Climate Incident Memantau kejadian
Adaptation Progress Mengukur kesiapan adaptasi
Critical Supplier Exposure Mengukur supply chain risk
Energy Intensity Memantau efisiensi
Emission Intensity Memantau transition exposure
Scenario Analysis Coverage Mengukur cakupan pengujian

Indikator sebaiknya disesuaikan dengan materialitas dan karakteristik bisnis.


Membangun Climate-Resilient Business

Tujuan akhir climate risk management bukan sekadar menghasilkan laporan risiko.

Tujuannya adalah membangun perusahaan yang lebih climate-resilient.

Perusahaan yang resilien mampu:

  • memahami exposure;
  • mengantisipasi perubahan;
  • menyesuaikan strategi;
  • melindungi aset;
  • menjaga supply chain;
  • mengelola biaya;
  • mempertahankan operasi;
  • mengambil peluang transisi.

Dengan demikian, climate risk management dapat menjadi bagian dari strategi bisnis jangka panjang.


Kesimpulan

Training Climate Risk Management 2026/2027 menjadi semakin penting karena perubahan iklim dapat memengaruhi hampir seluruh aspek perusahaan, mulai dari aset, operasional, supply chain, pasar, teknologi, regulasi, hingga kondisi finansial.

Perusahaan perlu memahami dua kelompok utama risiko, yaitu physical risk dan transition risk.

Physical risk berkaitan dengan dampak fisik perubahan iklim seperti banjir, kekeringan, panas ekstrem, dan kejadian cuaca lainnya.

Transition risk berkaitan dengan perubahan regulasi, teknologi, pasar, preferensi konsumen, serta tuntutan stakeholder dalam proses menuju ekonomi yang lebih rendah karbon.

Pengelolaan risiko tersebut membutuhkan pendekatan yang sistematis.

Prosesnya dapat dimulai dari risk identification, exposure mapping, vulnerability assessment, risk assessment, climate scenario analysis, mitigation, monitoring, dan reporting.

Climate Scenario Analysis menjadi salah satu alat penting karena membantu perusahaan menguji ketahanan strategi di bawah berbagai kemungkinan masa depan.

Ketika climate risk diintegrasikan dengan Enterprise Risk Management, Business Continuity Management, Supply Chain Risk Management, ESG, dan strategi bisnis, perusahaan dapat memperoleh perspektif yang lebih menyeluruh.

Pada akhirnya, climate risk management bukan hanya tentang menghadapi ancaman.

Perusahaan yang mampu memahami perubahan iklim dapat mengambil keputusan investasi yang lebih baik, membangun aset yang lebih resilien, memperkuat supply chain, mengantisipasi perubahan pasar, dan mempersiapkan strategi bisnis jangka panjang.

Dengan kompetensi yang tepat, organisasi dapat bergerak dari sekadar merespons risiko iklim menjadi organisasi yang lebih siap, adaptif, dan resilien menghadapi perubahan iklim serta transisi ekonomi di masa depan.

FAQ Training Climate Risk Management 2026/2027

Apa itu Training Climate Risk Management 2026/2027?

Training Climate Risk Management 2026/2027 adalah program pelatihan yang membahas cara mengidentifikasi, mengukur, memitigasi, memonitor, dan menganalisis risiko iklim yang dapat memengaruhi operasional, finansial, aset, supply chain, dan strategi perusahaan.

Apa perbedaan physical risk dan transition risk?

Physical risk berasal dari dampak fisik perubahan iklim seperti banjir, kekeringan, dan panas ekstrem. Transition risk muncul akibat perubahan menuju ekonomi rendah karbon, termasuk perubahan regulasi, teknologi, pasar, dan preferensi konsumen.

Apa itu Climate Scenario Analysis?

Climate Scenario Analysis adalah metode untuk menguji bagaimana strategi, operasi, aset, dan kondisi finansial perusahaan dapat terdampak dalam berbagai skenario iklim dan transisi. Scenario analysis bukan prediksi pasti, tetapi alat untuk menguji ketahanan perusahaan.

Mengapa climate risk perlu masuk ke Enterprise Risk Management?

Karena climate risk dapat berkembang menjadi risiko operasional, finansial, strategis, supply chain, reputasi, dan kepatuhan. Integrasi dengan ERM membantu manajemen melihat dampaknya secara lebih komprehensif.

Apakah climate risk hanya berkaitan dengan perusahaan yang menghasilkan emisi tinggi?

Tidak. Semua perusahaan dapat menghadapi climate risk. Perusahaan dengan emisi rendah sekalipun dapat menghadapi physical risk seperti banjir, kekeringan, panas ekstrem, serta supply chain disruption.

Apa manfaat mengikuti Training Climate Risk Management?

Peserta dapat memahami physical dan transition risk, melakukan climate risk assessment, memetakan exposure, menyusun climate risk register, melakukan scenario analysis, serta mengembangkan strategi mitigasi dan monitoring.

Siapa yang cocok mengikuti Training Climate Risk Management?

Training cocok bagi direksi, manajemen, risk management, sustainability, ESG, finance, strategy, operations, supply chain, procurement, asset management, compliance, internal audit, business continuity, dan corporate planning.


Daftar sekarang dan jadwalkan pelatihan terbaik untuk instansi atau perusahaan Anda!

📱 WhatsApp / Telp: 0812-6660-0643
📧 Email: info@pskn.co.id
🌐 Website: www.pskn.co.id

author-avatar

About PSKN

PUSAT PENGEMBANGAN SDM DAN TEKNOLOGI INFORMASI ( TI ) TERBAIK YANG TERLETAK DI KOTA JAKARTA PUSAT