BIDANG KEUANGAN, AKUNTANSI & INVESTASI

Training Operational Risk Management & Resilience Perbankan 2026/2027: Strategi Mengelola Risiko Operasional, Business Disruption, dan Operational Resilience

Industri perbankan merupakan salah satu sektor yang sangat bergantung pada keandalan proses, manusia, teknologi, data, infrastruktur, dan pihak ketiga. Aktivitas perbankan berlangsung secara terus-menerus dan melibatkan berbagai sistem yang saling terhubung. Ketika salah satu komponen mengalami gangguan, dampaknya dapat menyebar ke berbagai proses dan layanan.

Gangguan tersebut dapat berasal dari kesalahan manusia, kegagalan sistem, fraud, cyber attack, gangguan jaringan, bencana alam, kegagalan vendor, masalah proses, hingga perubahan kondisi bisnis.

Karena itu, Operational Risk Management (ORM) tidak lagi cukup dipahami sebagai aktivitas untuk mencatat insiden dan kerugian. Bank membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh untuk memahami bagaimana risiko operasional dapat mengganggu layanan kritis, bagaimana organisasi merespons disruption, serta bagaimana layanan dapat dipulihkan secara efektif.

Di sinilah konsep Operational Resilience menjadi semakin penting.

Operational Risk Management membantu bank memahami dan mengendalikan risiko yang dapat mengganggu proses bisnis. Sementara itu, operational resilience membantu memastikan bank tetap mampu menjalankan atau memulihkan layanan penting ketika terjadi gangguan.

Memasuki 2026/2027, integrasi antara operational risk management, business continuity, crisis management, technology risk, cyber risk, third party risk, dan operational resilience menjadi salah satu fondasi penting bagi bank yang ingin membangun organisasi yang tangguh.


Daftar Isi

Apa Itu Operational Risk Management Perbankan?

Operational Risk Management adalah proses sistematis untuk mengidentifikasi, menilai, mengendalikan, memantau, dan melaporkan risiko yang muncul akibat kegagalan atau ketidakcukupan proses internal, manusia, sistem, maupun akibat kejadian eksternal.

Dalam konteks perbankan, operational risk dapat muncul dalam berbagai bentuk.

Contohnya:

  • kesalahan transaksi;
  • kegagalan sistem;
  • human error;
  • fraud;
  • cyber incident;
  • gangguan jaringan;
  • kesalahan proses;
  • kegagalan vendor;
  • bencana alam;
  • masalah keamanan;
  • kegagalan kontrol internal.

Operational risk dapat memengaruhi:

  • keuangan;
  • operasional;
  • nasabah;
  • reputasi;
  • kepatuhan;
  • keberlangsungan layanan.

Mengapa Operational Risk Management Penting bagi Bank?

Bank memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan banyak sektor lainnya.

Satu kesalahan kecil dapat berdampak pada jumlah transaksi yang sangat besar.

Misalnya, kesalahan konfigurasi pada suatu sistem dapat menyebabkan:

System Error → Transaction Failure → Customer Complaints → Financial Impact → Reputation Risk

Demikian pula kegagalan vendor dapat menyebabkan:

Vendor Failure → Critical Service Disruption → Business Disruption → Customer Impact

Oleh sebab itu, pengelolaan operational risk perlu dilakukan secara terintegrasi.


Sumber Risiko Operasional Perbankan

Risiko operasional dapat dikelompokkan berdasarkan sumbernya.

Sumber Risiko Contoh
People Human error, misconduct
Process Prosedur tidak efektif
Technology System failure
External Event Bencana alam
Third Party Vendor outage
Cyber Ransomware, data breach
Fraud Internal/external fraud

Pendekatan tersebut membantu bank menentukan jenis kontrol yang tepat.


People Risk

Manusia merupakan bagian penting dari operasi bank.

Risiko dapat muncul dari:

  • kurangnya kompetensi;
  • kesalahan input;
  • kelalaian;
  • misconduct;
  • konflik kepentingan;
  • kurangnya awareness;
  • employee turnover.

Karena itu, pengelolaan people risk tidak hanya berkaitan dengan pelatihan, tetapi juga:

  • segregation of duties;
  • access control;
  • supervision;
  • performance management;
  • awareness;
  • succession planning.

Process Risk

Proses yang tidak jelas atau terlalu kompleks dapat meningkatkan operational risk.

Indikator masalah proses antara lain:

  • terlalu banyak manual intervention;
  • duplikasi pekerjaan;
  • approval tidak jelas;
  • dokumentasi tidak lengkap;
  • proses tidak diperbarui;
  • ketergantungan pada individu tertentu.

Process mapping dapat membantu mengidentifikasi titik risiko.


Technology Risk

Ketergantungan bank terhadap teknologi membuat technology risk menjadi bagian penting dari operational risk.

Risiko dapat berasal dari:

  • system downtime;
  • software failure;
  • hardware failure;
  • network outage;
  • configuration error;
  • integration failure;
  • cyber attack.

Teknologi yang kritis harus memiliki kontrol dan recovery strategy yang sesuai.


External Event Risk

Peristiwa eksternal dapat mengganggu operasi bank.

Contohnya:

  • gempa;
  • banjir;
  • kebakaran;
  • gangguan listrik;
  • gangguan telekomunikasi;
  • pandemi;
  • gangguan infrastruktur;
  • kondisi geopolitik.

Operational resilience membantu bank mempersiapkan respons terhadap skenario tersebut.


Third Party Operational Risk

Bank semakin bergantung pada pihak ketiga.

Vendor dapat menyediakan:

  • cloud;
  • data center;
  • payment services;
  • IT outsourcing;
  • software;
  • telecommunications;
  • cybersecurity.

Kegagalan vendor dapat berubah menjadi operational risk bagi bank.

Karena itu, third party risk management perlu terhubung dengan operational risk management.


Fraud sebagai Operational Risk

Fraud dapat menjadi sumber kerugian operasional.

Fraud dapat dilakukan oleh:

  • pihak internal;
  • pihak eksternal;
  • nasabah;
  • pihak ketiga.

Kontrol yang dapat digunakan meliputi:

  • segregation of duties;
  • transaction monitoring;
  • access control;
  • anomaly detection;
  • fraud analytics;
  • whistleblowing;
  • internal audit.

Operational Risk Event

Operational risk event adalah kejadian yang menunjukkan bahwa risiko telah terjadi.

Contohnya:

  • transaksi salah;
  • sistem tidak tersedia;
  • data salah;
  • fraud;
  • kegagalan vendor;
  • pelanggaran prosedur.

Setiap event perlu dicatat dan dianalisis agar organisasi dapat belajar dari kejadian tersebut.


Loss Data Collection

Loss data membantu bank memahami dampak risiko.

Data dapat mencakup:

  • tanggal kejadian;
  • unit terkait;
  • jenis risiko;
  • penyebab;
  • financial loss;
  • recovery cost;
  • customer impact;
  • corrective action.

Analisis loss data membantu menentukan pola dan prioritas mitigasi.


Risk and Control Self-Assessment

RCSA merupakan salah satu metode penting dalam operational risk management.

Dalam RCSA, unit kerja menilai:

  • risiko;
  • kontrol;
  • efektivitas kontrol;
  • residual risk;
  • action plan.

Contoh sederhana:

Risiko Kontrol Efektivitas Residual Risk
Transaction Error Maker-checker Baik Rendah
System Outage DR Plan Sedang Sedang
Fraud Monitoring Sedang Tinggi
Vendor Failure SLA Baik Sedang

Key Risk Indicator

KRI membantu bank memantau indikator yang dapat menunjukkan peningkatan risiko.

Contohnya:

  • jumlah system outage;
  • jumlah transaksi gagal;
  • jumlah operational incidents;
  • jumlah fraud cases;
  • jumlah SLA breach;
  • jumlah overdue remediation;
  • jumlah critical vulnerabilities.

KRI harus memiliki threshold yang jelas.


Risk Appetite

Risk appetite menentukan tingkat risiko yang bersedia diterima bank.

Untuk operational risk, risk appetite dapat diterjemahkan menjadi:

  • batas downtime;
  • jumlah incident;
  • tingkat loss;
  • toleransi service disruption;
  • tingkat vendor dependency.

Risk appetite menjadi dasar pengambilan keputusan dan escalation.


Operational Risk Dashboard

Dashboard dapat digunakan untuk memberikan gambaran kepada manajemen.

Contoh:

Indikator Status
Operational Loss Monitoring
Critical Incidents Monitoring
System Downtime Monitoring
Fraud Loss Monitoring
Vendor SLA Breach Monitoring
High-Risk Issues Monitoring
Overdue Action Plans Monitoring

Dashboard yang efektif tidak hanya menampilkan angka, tetapi juga:

  • tren;
  • threshold;
  • root cause;
  • business impact;
  • action plan.

Operational Resilience Perbankan

Operational resilience adalah kemampuan bank untuk terus memberikan layanan penting atau memulihkannya dalam batas toleransi gangguan ketika terjadi disruption.

Operational resilience memiliki cakupan lebih luas dibandingkan sekadar business continuity.

Fokusnya adalah:

Critical Services + Dependencies + Disruption Tolerance + Recovery Capability


Business Continuity vs Operational Resilience

Keduanya memiliki hubungan erat.

Business Continuity Operational Resilience
Fokus keberlangsungan proses Fokus layanan kritis
Berorientasi pada recovery Berorientasi pada resilience
BCP sebagai alat utama End-to-end capability
Menangani disruption Mengantisipasi dan menyerap disruption

Business continuity merupakan salah satu komponen penting operational resilience.


Menentukan Critical Business Services

Bank perlu menentukan layanan yang paling penting bagi nasabah dan operasional.

Contohnya:

  • pembayaran;
  • transfer;
  • mobile banking;
  • ATM;
  • internet banking;
  • settlement;
  • layanan customer;
  • treasury;
  • clearing.

Tidak semua proses memiliki tingkat criticality yang sama.


Business Impact Analysis

BIA digunakan untuk memahami dampak apabila suatu layanan terganggu.

Pertanyaan yang perlu dijawab:

  • Apa layanan yang terdampak?
  • Siapa yang terdampak?
  • Apa dependensinya?
  • Berapa lama layanan dapat terganggu?
  • Apa dampak finansialnya?
  • Apa dampak reputasinya?

Hasil BIA digunakan untuk menentukan strategi resilience.


Impact Tolerance

Impact tolerance menggambarkan batas gangguan yang dapat diterima sebelum dampak menjadi tidak dapat ditoleransi.

Misalnya:

  • maksimum downtime;
  • jumlah transaksi yang dapat tertunda;
  • jumlah nasabah yang dapat terdampak;
  • batas kehilangan data.

Konsep ini membantu bank menentukan prioritas investasi resilience.


Operational Resilience Mapping

Bank perlu memetakan hubungan antara:

Critical Service → Process → People → Technology → Data → Facility → Third Party

Mapping ini sangat penting.

Jika salah satu komponen memiliki kelemahan, bank dapat mengetahui dampaknya terhadap layanan.


Scenario Analysis

Scenario analysis membantu bank menguji ketahanan organisasi terhadap skenario disruption.

Contohnya:

Skenario Ransomware

Sistem digital banking tidak dapat digunakan.

Skenario Cloud Outage

Cloud provider mengalami gangguan.

Skenario Data Center Failure

Data center utama tidak tersedia.

Skenario Natural Disaster

Kantor atau fasilitas utama terdampak bencana.

Skenario Vendor Failure

Vendor kritis berhenti memberikan layanan.


Contoh Kasus Nyata: Gangguan Sistem Perbankan

Gangguan sistem pada bank dapat memberikan dampak luas ketika terjadi pada layanan digital yang digunakan banyak nasabah.

Misalnya:

System Failure → Mobile Banking Down → Transaction Delay → Customer Complaints → Reputation Impact

Pelajaran pentingnya adalah bahwa technical incident harus dilihat dari perspektif business impact.


Contoh Kasus Nyata: Ransomware

Berbagai insiden ransomware global menunjukkan bahwa gangguan teknologi dapat menyebabkan organisasi kehilangan akses terhadap sistem dan data.

Bagi bank, skenario ransomware perlu dipersiapkan melalui:

  • backup;
  • segmentation;
  • incident response;
  • recovery plan;
  • crisis management;
  • communication strategy.

Contoh Kasus Nyata: Kegagalan Pihak Ketiga

Bayangkan bank menggunakan vendor untuk layanan teknologi kritis.

Vendor mengalami outage selama beberapa jam.

Bank mungkin tidak terkena serangan langsung, tetapi layanan bank tetap terganggu.

Hal tersebut menunjukkan bahwa:

Third Party Risk = Operational Risk

dan harus masuk dalam operational resilience planning.


Operational Resilience Testing

Testing membantu bank mengetahui apakah strategi benar-benar bekerja.

Pengujian dapat berupa:

  • tabletop exercise;
  • disaster recovery test;
  • failover test;
  • backup restoration;
  • crisis simulation;
  • cyber incident exercise;
  • vendor resilience testing.

Testing harus menghasilkan action plan.


Tabletop Exercise

Tabletop exercise menggunakan skenario untuk menguji koordinasi antarunit.

Contohnya:

“Sistem mobile banking tidak tersedia dan pada saat yang sama bank menerima laporan potensi data breach.”

Peserta kemudian diminta menentukan:

  • siapa mengambil keputusan;
  • bagaimana incident diklasifikasikan;
  • bagaimana layanan dipulihkan;
  • siapa yang berkomunikasi;
  • bagaimana nasabah diberi informasi.

Crisis Management

Gangguan besar dapat berkembang menjadi krisis.

Crisis management memastikan bank memiliki:

  • crisis team;
  • escalation procedure;
  • decision authority;
  • communication plan;
  • stakeholder management.

Operational resilience dan crisis management harus saling mendukung.


Crisis Communication

Dalam disruption besar, komunikasi dapat menentukan persepsi publik.

Komunikasi harus:

  • cepat;
  • akurat;
  • konsisten;
  • transparan;
  • terkoordinasi.

Pesan kepada nasabah, regulator, media, karyawan, dan mitra harus dikelola dengan baik.


Recovery Strategy

Strategi recovery harus disesuaikan dengan criticality.

Pilihan dapat mencakup:

  • backup site;
  • alternate processing;
  • redundant system;
  • manual workaround;
  • cloud recovery;
  • secondary data center.

Tujuan akhirnya adalah mengembalikan layanan dalam batas toleransi.


Recovery Time Objective

RTO menunjukkan target waktu pemulihan.

Contohnya:

Incident → Recovery Target → Service Restored

Semakin kritis layanan, semakin ketat kebutuhan recovery.


Recovery Point Objective

RPO menentukan seberapa banyak kehilangan data yang dapat diterima.

Misalnya, sistem tertentu membutuhkan recovery point yang sangat dekat dengan kondisi terakhir sebelum disruption.

RPO dan RTO harus disusun berdasarkan business requirements.


Operational Resilience dan Cyber Risk

Cyber risk merupakan salah satu ancaman utama terhadap resilience.

Bank perlu memastikan:

  • cyber incident response;
  • backup;
  • recovery;
  • network segmentation;
  • identity management;
  • monitoring.

Cybersecurity dan resilience tidak boleh dikelola sebagai dua fungsi yang sepenuhnya terpisah.


Operational Resilience dan Third Party Risk

Bank perlu mengetahui vendor mana yang mendukung critical services.

Mapping harus menjawab:

  • vendor apa;
  • layanan apa;
  • sistem apa;
  • data apa;
  • subcontractor siapa;
  • alternative provider tersedia atau tidak.

Informasi tersebut membantu mengidentifikasi concentration risk.


Operational Risk Scenario Analysis

Scenario analysis dapat digunakan untuk memperkirakan potensi kerugian.

Contoh:

Skenario Dampak Utama Prioritas
Cyber Attack System disruption Sangat Tinggi
Cloud Outage Service unavailable Tinggi
Fraud Financial loss Tinggi
Natural Disaster Facility disruption Tinggi
Vendor Failure Operational disruption Tinggi

Operational Risk dan Artificial Intelligence

AI dapat digunakan untuk meningkatkan operational risk management.

Contohnya:

  • anomaly detection;
  • predictive analytics;
  • incident classification;
  • trend analysis;
  • automated reporting;
  • risk signal detection.

Namun penggunaan AI juga menghasilkan risiko baru yang perlu dikelola.


Digital Operational Resilience

Digitalisasi membuat resilience teknologi semakin penting.

Bank perlu mempertimbangkan:

  • cloud;
  • APIs;
  • mobile applications;
  • digital channels;
  • automation;
  • AI;
  • third-party technology.

Operational resilience harus mengikuti perubahan teknologi.


Operational Risk Governance

Governance memastikan risk management berjalan secara konsisten.

Komponen utama:

  • Board oversight;
  • management accountability;
  • risk policy;
  • risk appetite;
  • RCSA;
  • KRI;
  • loss data;
  • reporting;
  • independent assurance.

Three Lines Model

Operational risk dapat dikelola melalui tiga lini.

Lini Pertama

Unit bisnis memiliki dan mengelola risiko sehari-hari.

Lini Kedua

Risk Management dan Compliance memberikan oversight.

Lini Ketiga

Internal Audit memberikan assurance independen.

Model ini membantu memperjelas tanggung jawab.


Operational Risk Reporting

Laporan kepada manajemen sebaiknya berisi:

  • top operational risks;
  • loss events;
  • KRI;
  • emerging risks;
  • control issues;
  • remediation status;
  • resilience testing;
  • vendor risk.

Laporan harus membantu manajemen mengambil keputusan, bukan sekadar memenuhi kebutuhan administratif.


Operational Risk Management Maturity

Bank dapat menilai maturity sebagai berikut:

Level Karakteristik
1 Reactive
2 Basic
3 Defined
4 Integrated
5 Optimized

Pada tingkat matang, operational risk sudah terintegrasi dengan:

  • ERM;
  • cyber risk;
  • third party risk;
  • BCP;
  • crisis management;
  • operational resilience.

Tantangan Operational Risk Perbankan 2026/2027

Beberapa tantangan utama meliputi:

Digital Dependency

Semakin banyak layanan bergantung pada teknologi.

Cyber Threat

Serangan siber semakin kompleks.

Third Party Dependency

Bank semakin bergantung pada vendor.

Legacy Systems

Sebagian sistem lama masih digunakan.

Regulatory Expectations

Ekspektasi terhadap governance dan resilience semakin tinggi.

Data Complexity

Jumlah dan jenis data semakin besar.

Talent and Skill Gap

Kebutuhan tenaga dengan kompetensi risk dan technology terus meningkat.


Strategi Memperkuat Operational Resilience

Bank dapat menggunakan pendekatan:

Identify → Assess → Prioritize → Protect → Respond → Recover → Learn

Identify

Identifikasi critical services dan dependencies.

Assess

Nilai risiko dan vulnerability.

Prioritize

Tentukan prioritas berdasarkan impact.

Protect

Perkuat kontrol.

Respond

Siapkan incident response.

Recover

Pulihkan layanan.

Learn

Gunakan lessons learned untuk perbaikan.


Training Operational Risk Management & Resilience Perbankan 2026/2027

Training Operational Risk Management & Resilience Perbankan 2026/2027 dirancang untuk membantu peserta memahami pengelolaan risiko operasional secara menyeluruh, mulai dari identifikasi risiko hingga membangun kemampuan organisasi dalam menghadapi business disruption.

Materi pelatihan dapat mencakup:

  • konsep Operational Risk Management;
  • operational risk governance;
  • risk appetite;
  • risk identification;
  • Risk and Control Self-Assessment;
  • loss data collection;
  • operational risk event;
  • Key Risk Indicators;
  • operational risk dashboard;
  • scenario analysis;
  • fraud risk;
  • technology risk;
  • cyber risk;
  • third party risk;
  • Business Continuity Management;
  • Business Impact Analysis;
  • critical business services;
  • impact tolerance;
  • operational resilience;
  • crisis management;
  • incident response;
  • disaster recovery;
  • RTO dan RPO;
  • resilience testing;
  • tabletop exercise;
  • operational resilience maturity.

Manfaat Mengikuti Training

Peserta diharapkan mampu:

  • memahami operational risk perbankan;
  • melakukan risk identification;
  • menyusun risk register;
  • menjalankan RCSA;
  • memahami loss data;
  • menyusun KRI;
  • mengembangkan operational risk dashboard;
  • melakukan scenario analysis;
  • memahami business disruption;
  • mengidentifikasi critical services;
  • menyusun resilience strategy;
  • memahami BIA;
  • menentukan RTO dan RPO;
  • mengembangkan crisis response;
  • melakukan resilience testing.

Siapa yang Cocok Mengikuti Training?

Training ini relevan bagi:

  • Direksi;
  • Komisaris;
  • Risk Management;
  • Enterprise Risk Management;
  • Operational Risk;
  • Compliance;
  • Internal Audit;
  • Business Continuity;
  • Crisis Management;
  • IT Risk;
  • Information Security;
  • Cybersecurity;
  • Vendor Management;
  • Fraud Management;
  • Technology Management;
  • Operations;
  • Digital Banking.

Metode Pelatihan

Pelatihan dapat dilakukan menggunakan metode:

  • presentasi interaktif;
  • diskusi;
  • studi kasus perbankan;
  • risk assessment;
  • RCSA exercise;
  • scenario analysis;
  • tabletop exercise;
  • business impact analysis;
  • resilience mapping;
  • group discussion.

Metode tersebut membantu peserta menghubungkan teori dengan kondisi operasional bank.


Fasilitas Training

Fasilitas pelatihan dapat meliputi:

  • modul;
  • materi training;
  • studi kasus;
  • worksheet;
  • latihan risk assessment;
  • simulasi;
  • sertifikat;
  • dokumentasi;
  • diskusi interaktif.

Pelatihan juga dapat diselenggarakan dalam format in-house training dengan materi yang dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan dan profil risiko organisasi.


Checklist Operational Resilience Bank

Bank dapat menggunakan checklist berikut sebagai evaluasi awal:

Area Pertanyaan
Critical Services Apakah layanan kritis sudah ditentukan?
Dependencies Apakah dependensi sudah dipetakan?
Risk Assessment Apakah risiko dinilai secara berkala?
RCSA Apakah RCSA dilakukan?
KRI Apakah KRI memiliki threshold?
BIA Apakah dampak disruption sudah dihitung?
RTO/RPO Apakah target recovery jelas?
BCP Apakah BCP diperbarui?
DR Apakah recovery sudah diuji?
Vendor Apakah vendor kritis sudah dipetakan?
Crisis Apakah crisis team tersedia?
Testing Apakah resilience exercise dilakukan?

Roadmap Operational Resilience 2026/2027

Implementasi dapat dilakukan secara bertahap.

Tahap 1: Governance

Membangun policy, roles, risk appetite, dan accountability.

Tahap 2: Risk Assessment

Mengidentifikasi operational risks dan critical dependencies.

Tahap 3: Critical Service Mapping

Memetakan layanan, proses, teknologi, manusia, data, dan vendor.

Tahap 4: Resilience Strategy

Menentukan recovery strategy dan impact tolerance.

Tahap 5: Testing

Melakukan scenario analysis, tabletop exercise, DR test, dan failover test.

Tahap 6: Monitoring

Menggunakan KRI dan dashboard.

Tahap 7: Continuous Improvement

Menggunakan hasil incident, audit, testing, dan lessons learned.


Kesimpulan

Training Operational Risk Management & Resilience Perbankan 2026/2027 menjadi semakin relevan karena bank menghadapi lingkungan bisnis yang semakin digital, interconnected, dan penuh ketidakpastian.

Operational risk tidak hanya berasal dari kesalahan manusia atau kegagalan proses. Risiko dapat muncul dari teknologi, cyber attack, fraud, vendor, cloud provider, bencana, maupun perubahan lingkungan eksternal.

Karena itu, bank membutuhkan pendekatan yang mengintegrasikan:

Operational Risk Management + Business Continuity + Crisis Management + Cyber Risk + Third Party Risk + Technology Risk + Operational Resilience.

Pendekatan tersebut memungkinkan bank tidak hanya bertanya:

“Apa risiko yang kita miliki?”

Tetapi juga:

“Layanan apa yang paling kritis, apa yang terjadi jika layanan tersebut terganggu, seberapa besar gangguan yang dapat kita toleransi, dan seberapa cepat kita dapat memulihkannya?”

Inilah inti dari operational resilience.

Bank yang memiliki operational resilience kuat bukan berarti bank yang tidak pernah mengalami gangguan. Organisasi yang tangguh adalah organisasi yang mampu mengantisipasi disruption, menyerap dampaknya, merespons secara terkoordinasi, memulihkan layanan penting, dan memperbaiki kelemahan berdasarkan pengalaman.

Dengan penguatan governance, risk assessment, KRI, scenario analysis, BIA, resilience testing, dan continuous improvement, bank dapat membangun kemampuan yang lebih siap menghadapi risiko operasional dan business disruption pada 2026/2027 dan tahun-tahun berikutnya.

FAQ Training Operational Risk Management & Resilience Perbankan 2026/2027

Apa itu Operational Risk Management dalam perbankan?

Operational Risk Management adalah proses mengidentifikasi, menilai, mengendalikan, memantau, dan melaporkan risiko yang muncul dari kegagalan proses internal, manusia, sistem, maupun kejadian eksternal.

Apa yang dimaksud Operational Resilience?

Operational resilience adalah kemampuan bank untuk tetap memberikan layanan penting atau memulihkannya dalam batas toleransi gangguan ketika terjadi disruption.

Apa perbedaan Operational Risk Management dan Operational Resilience?

Operational Risk Management berfokus pada identifikasi dan pengendalian risiko operasional, sedangkan operational resilience berfokus pada kemampuan organisasi untuk mempertahankan atau memulihkan layanan kritis ketika gangguan terjadi.

Mengapa Business Continuity penting dalam Operational Resilience?

Business Continuity menyediakan strategi dan kemampuan untuk mempertahankan atau memulihkan aktivitas bisnis ketika terjadi disruption. Karena itu, BCP merupakan salah satu komponen penting operational resilience.

Apa saja contoh operational risk di bank?

Contohnya adalah human error, process failure, system outage, fraud, cyber incident, vendor failure, kesalahan transaksi, gangguan jaringan, dan bencana alam.

Mengapa scenario analysis penting?

Scenario analysis membantu bank menguji bagaimana organisasi akan menghadapi berbagai skenario disruption, seperti cyber attack, ransomware, cloud outage, data center failure, natural disaster, atau vendor failure.

Siapa yang cocok mengikuti Training Operational Risk Management & Resilience Perbankan?

Program ini cocok bagi Direksi, Komisaris, Risk Management, Operational Risk, Compliance, Internal Audit, Business Continuity, Crisis Management, IT Risk, Cybersecurity, Vendor Management, Fraud Management, Operations, dan Technology Management.


Daftar sekarang dan jadwalkan pelatihan terbaik untuk instansi atau perusahaan Anda!

📱 WhatsApp / Telp: 0812-6660-0643
📧 Email: info@pskn.co.id
🌐 Website: www.pskn.co.id

author-avatar

About PSKN

PUSAT PENGEMBANGAN SDM DAN TEKNOLOGI INFORMASI ( TI ) TERBAIK YANG TERLETAK DI KOTA JAKARTA PUSAT

Tinggalkan Balasan