PROGRAM LAIN

Trainer Risk Management Indonesia: Profil dan Kompetensi Mohamad Soleh

Di tengah perubahan bisnis yang semakin cepat, risk management tidak lagi dapat dipandang sebagai aktivitas administratif yang hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dokumentasi perusahaan. Manajemen risiko telah berkembang menjadi bagian penting dari tata kelola, pengambilan keputusan, pengendalian proses bisnis, transformasi digital, dan keberlanjutan organisasi.

Perusahaan, BUMN, BUMD, lembaga pemerintah, maupun organisasi lainnya membutuhkan sumber daya manusia yang mampu memahami hubungan antara risiko, proses bisnis, teknologi, sistem informasi, tata kelola, dan strategi organisasi.

Di sinilah peran seorang trainer dan konsultan Risk Management menjadi semakin penting.

Salah satu profil yang relevan untuk dikembangkan dalam bidang ini adalah Mohamad Soleh dari PSKN Training Center, yang hadir dengan pendekatan tidak hanya pada aspek manajemen risiko, tetapi juga pada integrasi sistem, proses bisnis, business analysis, dan transformasi digital.

Berdasarkan profil yang diberikan, Mohamad Soleh memiliki pengalaman pada sejumlah pekerjaan yang berkaitan dengan pengembangan dan penerapan sistem bisnis, antara lain sebagai Project Manager Penyusunan Arsitektur Risk Management System PLN & BULOG, Penyusunan Business Process, SOP & HCIS Architecture WIKA, serta Business Analyst Pengembangan Aplikasi HCIS WIKA.

Pengalaman tersebut memberikan perspektif yang menarik dalam pembelajaran risk management karena pengelolaan risiko modern membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menyusun risk register. Organisasi juga perlu memahami bagaimana risiko terhubung dengan proses bisnis, sistem, data, teknologi, struktur organisasi, serta keputusan manajemen.

Untuk memahami fondasi manajemen risiko secara lebih menyeluruh, pembaca juga dapat merujuk pada Training Risk Management: Panduan Lengkap Membangun Manajemen Risiko yang Efektif dan Terintegrasi sebagai artikel pilar yang membahas konsep, proses, identifikasi, assessment, mitigasi, monitoring, dan pelaporan risiko.

Daftar Isi

Mengapa Memilih Trainer Risk Management dengan Perspektif Sistem dan Bisnis?

Manajemen risiko modern tidak berdiri sendiri.

Ketika perusahaan menghadapi risiko operasional, misalnya, penyebabnya bisa berasal dari berbagai aspek:

  • Proses bisnis yang belum efektif.
  • SOP yang tidak jelas.
  • Sistem informasi yang tidak terintegrasi.
  • Data yang tidak akurat.
  • Kompetensi SDM yang belum memadai.
  • Pengendalian internal yang lemah.
  • Perubahan regulasi.
  • Ketergantungan pada vendor.
  • Infrastruktur teknologi.
  • Kesalahan pengambilan keputusan.

Artinya, seorang profesional Risk Management perlu mampu melihat risiko secara end-to-end.

Pendekatan tersebut menjadi semakin penting ketika organisasi melakukan transformasi digital.

Digitalisasi memang dapat meningkatkan efisiensi, tetapi juga menghasilkan risiko baru seperti:

  • Cybersecurity.
  • Data privacy.
  • System downtime.
  • Integrasi aplikasi.
  • Ketergantungan teknologi.
  • Digital fraud.
  • Data quality.
  • Vendor technology risk.
  • Business continuity.

Karena itu, kompetensi Risk Management yang terintegrasi dengan pemahaman sistem dan proses bisnis menjadi semakin relevan.

Profil Mohamad Soleh sebagai Trainer Risk Management Indonesia

Mohamad Soleh hadir di bidang pelatihan dan konsultasi dengan pendekatan yang menghubungkan risk management, business process, system architecture, dan digital transformation.

Dalam konteks pembelajaran, pendekatan tersebut dapat membantu peserta melihat bahwa risiko bukan hanya angka dalam sebuah matriks.

Risiko merupakan bagian dari aktivitas organisasi.

Sebuah proses bisnis memiliki tujuan.

Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat aktivitas, sumber daya, sistem, manusia, teknologi, dan keputusan.

Di setiap titik tersebut terdapat kemungkinan terjadinya risiko.

Secara sederhana dapat digambarkan:

Strategi Organisasi

Business Process

People + Technology + Data

Risk Identification

Risk Assessment

Risk Treatment

Monitoring

Decision Making

Perspektif inilah yang dapat menjadi nilai tambah dalam pembelajaran Risk Management bagi perusahaan dan organisasi yang sedang melakukan transformasi.

Pengalaman Project Manager Penyusunan Arsitektur Risk Management System PLN & BULOG

Salah satu pengalaman yang disebutkan dalam profil Mohamad Soleh adalah keterlibatan sebagai Project Manager Penyusunan Arsitektur Risk Management System PLN & BULOG.

Pengalaman seperti ini relevan karena penerapan manajemen risiko pada organisasi besar membutuhkan pemikiran yang sistematis.

Organisasi dengan skala besar biasanya memiliki:

  • Banyak unit kerja.
  • Banyak proses bisnis.
  • Banyak jenis risiko.
  • Banyak risk owner.
  • Banyak data.
  • Banyak sistem.
  • Banyak pemangku kepentingan.
  • Struktur tata kelola yang kompleks.

Tanpa arsitektur yang jelas, manajemen risiko dapat berjalan secara terpisah-pisah.

Sebagai contoh, unit Finance dapat memiliki risk register sendiri, unit IT memiliki risk register sendiri, unit Operations memiliki risk register sendiri, dan unit Procurement memiliki risk register sendiri.

Masalahnya, risiko tersebut dapat saling berhubungan.

Contohnya:

Vendor IT bermasalah

→ sistem terganggu

→ operasional terhenti

→ pelayanan pelanggan menurun

→ pendapatan terdampak

→ reputasi perusahaan menurun.

Jika setiap unit hanya melihat risiko dari perspektifnya sendiri, manajemen mungkin tidak memperoleh gambaran keseluruhan.

Karena itu, arsitektur Risk Management System diperlukan untuk membantu menghubungkan berbagai informasi tersebut.

Mengapa Arsitektur Risk Management System Penting?

Arsitektur sistem membantu menjawab beberapa pertanyaan fundamental:

  • Bagaimana risiko didefinisikan?
  • Siapa risk owner?
  • Bagaimana risiko dicatat?
  • Bagaimana risiko dinilai?
  • Dari mana data risiko diperoleh?
  • Bagaimana risk register dikelola?
  • Bagaimana risiko dikonsolidasikan?
  • Bagaimana laporan risiko dibuat?
  • Bagaimana risiko dipantau?
  • Bagaimana informasi risiko digunakan manajemen?

Dengan pendekatan sistem, manajemen risiko dapat bergerak dari proses manual menuju pengelolaan yang lebih terstruktur dan terdigitalisasi.

Relevansi Pengalaman PLN dalam Manajemen Risiko

PLN sendiri secara resmi menjelaskan bahwa penerapan manajemen risiko terintegrasi merupakan bagian dari praktik Governance, Risk Management, and Compliance atau GRC. PLN juga menempatkan manajemen risiko sebagai bagian dari aktivitas dan tanggung jawab insan perusahaan.

Pedoman GCG PLN menjelaskan bahwa manajemen risiko diarahkan untuk menumbuhkan budaya risiko preventif, memastikan risk owner mampu mengelola risiko, mengintegrasikan risiko ke dalam proses bisnis, dan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa risk management modern harus terintegrasi dengan proses bisnis.

Dengan demikian, pengalaman dalam penyusunan arsitektur Risk Management System memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan organisasi yang ingin membangun sistem pengelolaan risiko yang lebih matang.

Relevansi Pengalaman BULOG

Perum BULOG juga menempatkan penguatan manajemen risiko sebagai salah satu bagian dari arah perusahaan. Dalam informasi resmi perusahaan, BULOG menyebut penguatan manajemen risiko, talenta, dan budaya kinerja sebagai bagian dari misi perusahaan yang didukung teknologi.

Hal tersebut memperlihatkan hubungan yang semakin kuat antara:

Risk Management + Talent + Performance Culture + Technology.

Dengan kata lain, pengelolaan risiko tidak dapat dipisahkan dari kemampuan organisasi mengelola manusia, proses, dan teknologi.

Perspektif seperti ini menjadi penting dalam pelatihan Risk Management karena peserta perlu memahami konteks organisasi secara keseluruhan.

Pengalaman Business Process, SOP & HCIS Architecture WIKA

Selain pengalaman yang berkaitan dengan Risk Management System, profil Mohamad Soleh juga mencantumkan pengalaman dalam penyusunan Business Process, SOP & HCIS Architecture WIKA.

Pengalaman tersebut relevan karena proses bisnis merupakan salah satu fondasi dalam identifikasi risiko.

Sebuah risiko tidak muncul di ruang kosong.

Risiko biasanya muncul dalam suatu proses.

Misalnya proses:

Procurement

→ kebutuhan barang

→ pemilihan vendor

→ evaluasi

→ kontrak

→ penerimaan barang

→ pembayaran.

Pada setiap tahapan terdapat potensi risiko.

Contohnya:

Tahapan Potensi Risiko
Identifikasi kebutuhan Kebutuhan tidak akurat
Pemilihan vendor Vendor tidak kompeten
Kontrak Klausul tidak memadai
Pengiriman Keterlambatan
Penerimaan Kualitas tidak sesuai
Pembayaran Kesalahan dokumen
Evaluasi Kinerja vendor tidak terdokumentasi

Karena itu, pemahaman business process dapat membantu peserta melakukan identifikasi risiko secara lebih konkret.

Mengapa SOP Penting dalam Risk Management?

SOP merupakan salah satu instrumen pengendalian.

Jika proses tidak memiliki SOP yang jelas, maka kemungkinan terjadinya:

  • Human error.
  • Ketidakkonsistenan.
  • Pelanggaran prosedur.
  • Duplicate work.
  • Delay.
  • Kesalahan approval.
  • Fraud.
  • Kesalahan dokumentasi.

menjadi lebih sulit dikendalikan.

Namun keberadaan SOP saja belum cukup.

Organisasi juga perlu mengevaluasi apakah SOP:

  • Masih relevan.
  • Dipahami pegawai.
  • Dilaksanakan.
  • Memiliki kontrol.
  • Memiliki segregation of duties.
  • Memiliki approval.
  • Memiliki monitoring.
  • Terhubung dengan sistem.

Di sinilah Risk Management dan Business Process Management saling bertemu.

Pengalaman Business Analyst Pengembangan Aplikasi HCIS WIKA

Profil Mohamad Soleh juga mencantumkan pengalaman sebagai Business Analyst dalam pengembangan aplikasi HCIS WIKA.

Peran Business Analyst penting dalam transformasi digital karena seorang Business Analyst perlu memahami kebutuhan bisnis sebelum diterjemahkan ke dalam sistem.

Dalam konteks Risk Management, pendekatan tersebut dapat digunakan untuk memahami:

Business Requirement → Process → Risk → Control → System Requirement

Contohnya, perusahaan ingin mengurangi risiko kesalahan dalam proses persetujuan.

Business Analyst dapat memetakan:

  1. Siapa yang mengajukan?
  2. Siapa yang memeriksa?
  3. Siapa yang menyetujui?
  4. Dokumen apa yang diperlukan?
  5. Apa batas kewenangannya?
  6. Apa risiko jika approval dilewati?
  7. Bagaimana sistem mencatat approval?
  8. Bagaimana audit trail tersedia?

Dari sini terlihat bahwa digitalisasi pengendalian membutuhkan pemahaman proses dan risiko.

Risk Management dan Transformasi Digital

Transformasi digital telah mengubah cara organisasi bekerja.

Aplikasi, dashboard, cloud, AI, ERP, HRIS, CRM, mobile application, dan sistem terintegrasi memberikan banyak manfaat.

Namun teknologi juga menciptakan risiko baru.

Risiko Teknologi

Contohnya:

  • System failure.
  • Cyber attack.
  • Data leakage.
  • Data corruption.
  • Unauthorized access.
  • Integration failure.

Risiko Proses

Digitalisasi yang buruk dapat menghasilkan:

  • Proses tidak efektif.
  • Automasi proses yang salah.
  • Duplicate data.
  • Bottleneck digital.
  • Approval yang tidak sesuai.

Risiko SDM

Perubahan teknologi juga membutuhkan:

  • Kompetensi baru.
  • Reskilling.
  • Upskilling.
  • Change management.
  • Adaptasi budaya.

Karena itu, digital risk management harus menjadi bagian dari enterprise risk management.

Kompetensi Utama Trainer Risk Management

Seorang trainer Risk Management yang baik idealnya memiliki kompetensi yang mencakup beberapa aspek.

Kompetensi Penjelasan
Risk Management Memahami prinsip dan proses pengelolaan risiko
Business Process Memahami alur proses organisasi
Risk Assessment Mampu mengidentifikasi dan menilai risiko
Internal Control Memahami hubungan risiko dan kontrol
Business Analysis Mampu menerjemahkan kebutuhan bisnis
System Architecture Memahami hubungan sistem dengan proses
Digital Transformation Memahami risiko dan peluang digital
Facilitation Mampu memfasilitasi risk workshop
Communication Mampu menjelaskan konsep kompleks
Strategic Thinking Melihat risiko dalam perspektif tujuan organisasi

Dengan kombinasi kompetensi tersebut, pelatihan dapat diarahkan bukan hanya pada pemahaman teori, tetapi juga pada penerapan.

Kompetensi Risk Management yang Perlu Dimiliki Peserta

Pelatihan bersama trainer yang memiliki perspektif praktis idealnya membantu peserta mengembangkan beberapa kompetensi.

Risk Identification

Peserta mampu menemukan risiko berdasarkan tujuan dan proses bisnis.

Risk Assessment

Peserta mampu menilai kemungkinan dan dampak risiko.

Risk Mapping

Peserta mampu memetakan hubungan antara risiko, penyebab, dampak, dan kontrol.

Risk Treatment

Peserta mampu menentukan strategi mitigasi.

Risk Monitoring

Peserta mampu menentukan indikator risiko dan mekanisme monitoring.

Risk Reporting

Peserta mampu menyampaikan informasi risiko secara ringkas dan relevan kepada manajemen.

Risk-Based Decision Making

Peserta mampu mempertimbangkan risiko ketika mengambil keputusan.

Pendekatan Training Risk Management Berbasis Studi Kasus

Salah satu pendekatan yang efektif dalam pelatihan adalah menggunakan studi kasus.

Misalnya peserta diberikan kasus:

Sebuah perusahaan mengalami keterlambatan proyek strategis sebesar tiga bulan.

Peserta kemudian diminta mengidentifikasi:

  • Risk event.
  • Risk cause.
  • Risk impact.
  • Existing control.
  • Risk owner.
  • Likelihood.
  • Impact.
  • Risk rating.
  • Mitigation.
  • KRI.

Hasilnya kemudian dipresentasikan.

Trainer dapat memberikan feedback.

Dengan metode ini, peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi langsung berlatih berpikir sebagai risk owner.

Contoh Risk Register dalam Pelatihan

Berikut contoh sederhana yang dapat digunakan dalam workshop:

Elemen Contoh
Objective Proyek selesai tepat waktu
Risk Event Keterlambatan material
Cause Vendor terlambat
Impact Jadwal proyek mundur
Existing Control Vendor monitoring
Risk Owner Project Manager
Likelihood 4
Impact 5
Risk Level Tinggi
Treatment Alternative supplier
KRI Delivery delay
Target < 5 hari
Status Monitoring

Format sebenarnya dapat disesuaikan dengan metodologi organisasi.

Risk Management untuk Perusahaan, BUMN dan BUMD

Trainer Risk Management perlu memahami bahwa setiap organisasi memiliki karakteristik berbeda.

Perusahaan Swasta

Fokus dapat meliputi:

  • Business risk.
  • Financial risk.
  • Operational risk.
  • Market risk.
  • Technology risk.
  • Fraud.
  • Supply chain.

BUMN

Fokus dapat diperluas ke:

  • Strategic risk.
  • Investment risk.
  • Project risk.
  • Subsidiary risk.
  • Governance.
  • Compliance.
  • Sustainability.
  • Digital risk.

BUMD

Fokus dapat meliputi:

  • Financial sustainability.
  • Public service.
  • Investment.
  • Governance.
  • Procurement.
  • Operational risk.
  • Regulatory compliance.

Dengan demikian, pendekatan pelatihan perlu disesuaikan dengan konteks organisasi.

Landasan Pemerintah dalam Penerapan Manajemen Risiko

Manajemen risiko juga memiliki konteks penting dalam tata kelola pemerintahan.

Peraturan BPKP Nomor 4 Tahun 2021 tentang Manajemen Risiko di Lingkungan BPKP merupakan salah satu referensi resmi yang dapat digunakan untuk memahami penerapan manajemen risiko pada lingkungan BPKP. Peraturan tersebut berstatus berlaku dan ditetapkan pada 7 April 2021.

Dalam dokumen tersebut, manajemen risiko dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan pencapaian tujuan, peningkatan kinerja, pengambilan keputusan, efisiensi sumber daya, kepatuhan, kepercayaan pemangku kepentingan, dan ketahanan organisasi.

Pembaca dapat mengakses JDIH BPKP – Peraturan BPKP Nomor 4 Tahun 2021 tentang Manajemen Risiko sebagai sumber resmi pemerintah.

Referensi tersebut dapat menjadi salah satu bahan pembelajaran ketika organisasi ingin memahami bagaimana prinsip manajemen risiko ditempatkan dalam kerangka tata kelola dan pengendalian.

Mengapa Trainer Harus Memahami Sistem?

Bayangkan sebuah perusahaan memiliki risk register yang sangat lengkap.

Namun:

  • Data tidak terintegrasi.
  • Risk owner tidak memperbarui data.
  • KRI tidak tersedia.
  • Monitoring dilakukan manual.
  • Laporan dibuat terlambat.
  • Tidak ada dashboard.
  • Tidak ada hubungan antara risiko dan proses bisnis.

Apakah sistem tersebut efektif?

Belum tentu.

Risk management yang matang membutuhkan integrasi antara:

People + Process + Technology + Data + Governance

Itulah sebabnya pendekatan yang menggabungkan Risk Management dengan Business Process dan System Architecture dapat memberikan perspektif yang lebih luas.

Mohamad Soleh dan Pendekatan Transformasi Digital

Pernyataan penting dalam profil Mohamad Soleh adalah:

“Because modern business needs integrated systems, processes, and digital risk management.”

Pernyataan tersebut menggambarkan pendekatan yang menempatkan risk management sebagai bagian dari transformasi organisasi.

Organisasi modern membutuhkan sistem yang:

  • Terintegrasi.
  • Berbasis data.
  • Mudah dipantau.
  • Mendukung pengambilan keputusan.
  • Memiliki audit trail.
  • Memiliki kontrol akses.
  • Memiliki indikator risiko.
  • Dapat menghasilkan laporan.

Dengan demikian, digital risk management bukan sekadar membuat aplikasi.

Yang lebih penting adalah memastikan bahwa aplikasi tersebut benar-benar mendukung proses bisnis dan tujuan manajemen risiko.

Peran Trainer dalam Membangun Risk Culture

Trainer tidak hanya menyampaikan materi.

Dalam pelatihan Risk Management, trainer juga berperan sebagai:

  • Facilitator.
  • Educator.
  • Discussion partner.
  • Case analyst.
  • Workshop facilitator.
  • Change enabler.
  • Strategic thinking partner.

Peserta perlu diarahkan agar tidak hanya bertanya:

“Apa risikonya?”

Tetapi juga:

“Mengapa risiko tersebut muncul?”

“Apa dampaknya terhadap tujuan?”

“Siapa risk owner?”

“Apakah kontrolnya efektif?”

“Bagaimana kita mengetahui risiko tersebut mulai meningkat?”

“Apa keputusan yang harus dilakukan manajemen?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mendorong perubahan cara berpikir.

Training Risk Management untuk Level Manajemen

Bagi Direksi dan Manajemen, materi dapat diarahkan pada:

  • Enterprise Risk Management.
  • Strategic Risk.
  • Risk Appetite.
  • Risk Tolerance.
  • Top Risk.
  • Emerging Risk.
  • Risk Dashboard.
  • Risk Governance.
  • Risk-Based Decision Making.

Manajemen tidak perlu mengetahui setiap detail operasional, tetapi perlu mengetahui risiko yang dapat memengaruhi tujuan strategis.

Training Risk Management untuk Risk Officer

Untuk risk officer, materi dapat lebih teknis:

  • Risk framework.
  • Risk taxonomy.
  • Risk assessment.
  • Risk register.
  • Risk matrix.
  • KRI.
  • Risk aggregation.
  • Risk reporting.
  • Risk dashboard.
  • Risk monitoring.

Peserta dapat diberikan workshop yang lebih intensif.

Training Risk Management untuk Internal Audit

Bagi internal audit, risk management dapat dihubungkan dengan:

  • Risk-based audit.
  • Internal control.
  • Control effectiveness.
  • Assurance.
  • Risk assessment.
  • Audit planning.
  • Three Lines.

Dengan pendekatan ini, internal audit dapat menggunakan informasi risiko untuk menentukan area prioritas pemeriksaan.

Training Risk Management untuk Tim IT

Untuk IT, fokus dapat mencakup:

  • IT risk.
  • Cyber risk.
  • Data risk.
  • Application risk.
  • Infrastructure risk.
  • Access control.
  • Disaster recovery.
  • Business continuity.
  • Vendor risk.
  • System availability.

Hal ini sangat relevan bagi organisasi yang sedang melakukan transformasi digital.

Mengukur Keberhasilan Training Risk Management

Keberhasilan pelatihan tidak cukup diukur berdasarkan jumlah peserta atau sertifikat.

Organisasi dapat mengukur perubahan melalui beberapa indikator:

Sebelum Training Setelah Training
Risiko dipahami secara umum Risiko dipetakan secara sistematis
Risk register tidak konsisten Risk register lebih terstruktur
Risk owner kurang jelas Ownership lebih jelas
Mitigasi bersifat umum Mitigasi memiliki action plan
Monitoring manual Monitoring menggunakan indikator
Laporan panjang Risk reporting lebih fokus
Risiko dianggap urusan satu unit Risiko menjadi tanggung jawab bersama

Dengan pendekatan tersebut, training dapat menjadi bagian dari proses peningkatan maturitas manajemen risiko.

Nilai Tambah Trainer Risk Management Indonesia

Profil trainer dengan pengalaman di area Risk Management System, Business Process, SOP, HCIS Architecture, dan Business Analysis memberikan perspektif lintas fungsi.

Nilai tambah tersebut terutama terlihat pada kemampuan menghubungkan:

Risk

dengan

Process

kemudian

People

lalu

Technology

dan akhirnya

Business Decision.

Pendekatan ini relevan bagi organisasi yang tidak hanya ingin memahami risk management, tetapi juga ingin mengintegrasikannya ke dalam sistem dan proses bisnis.

Mengapa PSKN Training Center?

PSKN Training Center mengembangkan program pelatihan yang dapat diarahkan untuk kebutuhan perusahaan, BUMN, BUMD, lembaga pemerintah, dan organisasi lainnya.

Program Training Risk Management dapat dikembangkan dalam format:

  • Public Training.
  • Inhouse Training.
  • Workshop.
  • Executive Training.
  • Risk Assessment Workshop.
  • Risk Register Workshop.
  • Corporate Risk Management Program.

Materi juga dapat disesuaikan dengan level peserta dan tujuan organisasi.

Untuk program inhouse, studi kasus dapat diarahkan pada proses bisnis organisasi sehingga peserta lebih mudah menghubungkan materi dengan pekerjaan sehari-hari.

Kesimpulan

Trainer Risk Management Indonesia: Mohamad Soleh PSKN Training Center dapat menjadi salah satu profil trainer yang menarik untuk diperkenalkan kepada perusahaan dan organisasi yang membutuhkan pembelajaran manajemen risiko dengan perspektif yang lebih luas.

Berdasarkan profil yang diberikan, pengalaman Mohamad Soleh mencakup Project Manager Penyusunan Arsitektur Risk Management System PLN & BULOG, penyusunan Business Process, SOP & HCIS Architecture WIKA, serta Business Analyst Pengembangan Aplikasi HCIS WIKA.

Rangkaian pengalaman tersebut menunjukkan pendekatan yang menghubungkan manajemen risiko dengan proses bisnis, sistem, dan transformasi digital.

Pendekatan ini relevan karena organisasi modern tidak cukup hanya memiliki risk register.

Organisasi membutuhkan sistem manajemen risiko yang mampu:

  • Mengidentifikasi risiko.
  • Menilai risiko.
  • Menentukan risk owner.
  • Menyusun mitigasi.
  • Memantau KRI.
  • Mengintegrasikan risiko dengan proses bisnis.
  • Menggunakan teknologi.
  • Menghasilkan informasi yang relevan.
  • Mendukung keputusan manajemen.

Pada akhirnya, tujuan Risk Management bukan menghilangkan seluruh risiko.

Tujuannya adalah membantu organisasi memahami ketidakpastian, mengambil keputusan secara lebih terinformasi, mengendalikan risiko dalam batas yang dapat diterima, serta meningkatkan peluang tercapainya tujuan organisasi.

FAQ Trainer Risk Management Indonesia

Siapa Mohamad Soleh?

Mohamad Soleh merupakan trainer dan konsultan Risk Management pada PSKN Training Center dengan pendekatan yang menghubungkan manajemen risiko, proses bisnis, sistem, business analysis, dan transformasi digital. Profil pengalaman yang digunakan dalam artikel ini berasal dari informasi yang diberikan untuk penyusunan artikel.

Apa pengalaman Mohamad Soleh dalam Risk Management?

Berdasarkan profil yang diberikan, Mohamad Soleh memiliki pengalaman sebagai Project Manager Penyusunan Arsitektur Risk Management System PLN & BULOG. Profil tersebut juga mencantumkan pengalaman pada penyusunan Business Process, SOP & HCIS Architecture WIKA serta Business Analyst Pengembangan Aplikasi HCIS WIKA.

Apa keunggulan pendekatan Risk Management berbasis sistem?

Pendekatan berbasis sistem membantu organisasi melihat hubungan antara risiko, proses bisnis, manusia, teknologi, data, pengendalian, dan pengambilan keputusan. Pendekatan ini relevan terutama bagi organisasi yang sedang melakukan digital transformation.

Siapa yang cocok mengikuti Training Risk Management?

Training dapat ditujukan kepada Direksi, Komisaris, Risk Officer, Manager, Internal Audit, Compliance, Finance, IT, HR, Procurement, Project Manager, Business Process Analyst, maupun pemilik risiko dari unit kerja lainnya.

Bangun Kompetensi Risk Management Bersama PSKN Training Center

Perkuat kemampuan tim dalam mengidentifikasi, menilai, memitigasi, dan memonitor risiko.

Kembangkan Risk Management yang terintegrasi dengan Business Process, System, Technology, dan Strategic Decision Making.

PSKN Training Center
Professional • Competent • Trusted

HP & WhatsApp: 0812-6660-0643
Telepon: (021) 3454426
Email: info@pskn.co.id – www.pskn.co.id
Alamat: Gedung Starspace, Jl. Tanah Abang II No.74A, RT.1/RW.5, Petojo Selatan, Jakarta Pusat

Saatnya membangun organisasi yang lebih sadar risiko, lebih adaptif terhadap perubahan, dan lebih siap menghadapi tantangan bisnis masa depan.

author-avatar

About PSKN

PUSAT PENGEMBANGAN SDM DAN TEKNOLOGI INFORMASI ( TI ) TERBAIK YANG TERLETAK DI KOTA JAKARTA PUSAT

Tinggalkan Balasan