Perbedaan Sertifikat Standar dan Izin dalam OSS RBA: Panduan Lengkap untuk Pelaku Usaha
Memahami Sertifikat Standar dan Izin dalam OSS RBA
Perizinan berusaha di Indonesia saat ini menggunakan pendekatan berbasis risiko melalui sistem Online Single Submission Risk Based Approach (OSS RBA). Pendekatan ini membedakan jenis Perizinan Berusaha berdasarkan tingkat risiko dari masing-masing kegiatan usaha.
Bagi perusahaan, salah satu hal yang sering menimbulkan kebingungan adalah perbedaan antara Sertifikat Standar dan Izin.
Keduanya sama-sama berkaitan dengan legalitas kegiatan usaha, tetapi memiliki fungsi dan mekanisme pemenuhan yang berbeda.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan Berusaha merupakan legalitas yang diberikan kepada pelaku usaha untuk memulai dan menjalankan usaha atau kegiatannya. PP tersebut mulai berlaku pada 5 Juni 2025 dan mencabut PP Nomor 5 Tahun 2021.
Sementara itu, sistem OSS saat ini secara resmi mengelompokkan kegiatan usaha menjadi empat tingkat risiko, yaitu rendah, menengah rendah, menengah tinggi, dan tinggi. Tingkat risiko tersebut menentukan jenis izin dan kewajiban yang harus dipenuhi pelaku usaha.
Memahami perbedaan Sertifikat Standar dan Izin menjadi penting karena kesalahan dalam membaca status perizinan dapat menyebabkan perusahaan menganggap kegiatan usaha sudah sepenuhnya dapat dijalankan, padahal masih terdapat persyaratan yang harus dipenuhi atau diverifikasi.
Artikel ini membahas secara lengkap:
- Apa itu Sertifikat Standar.
- Apa itu Izin.
- Perbedaan keduanya.
- Hubungan Sertifikat Standar dengan tingkat risiko.
- Kapan Sertifikat Standar diperlukan.
- Kapan Izin diperlukan.
- Apa arti Sertifikat Standar terverifikasi.
- Apa yang harus dilakukan perusahaan setelah dokumen terbit.
- Kesalahan umum dalam memahami dokumen OSS RBA.
Apa Itu Sertifikat Standar dalam OSS RBA?
Sertifikat Standar merupakan dokumen yang berkaitan dengan pemenuhan standar kegiatan usaha sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk suatu kegiatan usaha.
Sertifikat Standar terutama berkaitan dengan kegiatan usaha yang masuk dalam kelompok risiko menengah.
Dalam sistem OSS, risiko menengah dibagi menjadi:
- Risiko menengah rendah.
- Risiko menengah tinggi.
Perbedaan keduanya terutama berkaitan dengan mekanisme pemenuhan dan verifikasi standar.
Pada kegiatan usaha tertentu dengan risiko menengah rendah, pelaku usaha melakukan pemenuhan standar sesuai mekanisme yang ditentukan dalam sistem OSS.
Sementara pada risiko menengah tinggi, pemenuhan standar dapat memerlukan proses verifikasi oleh kementerian, lembaga, pemerintah daerah, atau pihak berwenang sesuai sektor dan kewenangannya.
Panduan resmi OSS untuk risiko menengah tinggi menunjukkan adanya proses pemenuhan standar usaha, sedangkan untuk risiko tinggi terdapat proses pemenuhan persyaratan izin.
Dengan demikian, Sertifikat Standar tidak sekadar dokumen administratif.
Dokumen tersebut berkaitan dengan kemampuan pelaku usaha untuk memenuhi standar yang dipersyaratkan dalam menjalankan kegiatan usahanya.
Apa Itu Izin dalam OSS RBA?
Berbeda dengan Sertifikat Standar, Izin digunakan untuk kegiatan usaha yang masuk dalam kategori risiko tinggi, sesuai dengan ketentuan dan karakteristik kegiatan usaha tersebut.
Dalam pendekatan berbasis risiko, semakin tinggi potensi risiko suatu kegiatan usaha, semakin ketat pula bentuk pengendalian perizinannya.
PP Nomor 28 Tahun 2025 menempatkan kegiatan usaha berdasarkan hasil analisis risiko. Ruang lingkup PBBR meliputi persyaratan dasar, Perizinan Berusaha, PB UMKU, norma dan standar, layanan OSS, pengawasan, evaluasi, penyelesaian permasalahan, hingga sanksi.
Pada kegiatan usaha risiko tinggi, pelaku usaha tidak cukup hanya memahami NIB. Pelaku usaha harus memperhatikan pemenuhan persyaratan untuk memperoleh Izin sesuai dengan kegiatan usahanya.
Panduan OSS juga membedakan proses tersebut secara jelas: untuk risiko menengah tinggi terdapat pemenuhan standar usaha, sedangkan untuk risiko tinggi terdapat pemenuhan persyaratan izin.
Perbedaan Sertifikat Standar dan Izin
Secara sederhana, perbedaan keduanya dapat dilihat dari tingkat risiko dan mekanisme pemenuhannya.
| Aspek | Sertifikat Standar | Izin |
|---|---|---|
| Kaitan utama | Risiko menengah | Risiko tinggi |
| Fungsi | Menunjukkan pemenuhan standar kegiatan usaha | Legalitas untuk kegiatan usaha yang memerlukan izin |
| Risiko | Menengah rendah/menengah tinggi | Tinggi |
| Verifikasi | Dapat diperlukan, terutama risiko menengah tinggi | Persyaratan izin harus dipenuhi sesuai ketentuan |
| NIB | Tetap diperlukan | Tetap diperlukan |
| Fokus | Standar kegiatan usaha | Persyaratan dan izin kegiatan |
| Pengawasan | Berbasis tingkat risiko | Lebih ketat sesuai karakteristik risiko |
| Mekanisme | Melalui OSS dan/atau instansi berwenang | Melalui OSS dan pemenuhan persyaratan sesuai sektor |
Tabel ini merupakan gambaran umum. Detail persyaratan tetap harus diperiksa berdasarkan KBLI, sektor, lokasi, skala usaha, dan regulasi teknis yang berlaku.
Hubungan Sertifikat Standar dengan Tingkat Risiko Usaha
Untuk memahami Sertifikat Standar dan Izin, perusahaan perlu memahami terlebih dahulu klasifikasi risiko dalam OSS RBA.
Saat ini OSS secara resmi menyebut terdapat empat tingkat risiko:
- Risiko rendah.
- Risiko menengah rendah.
- Risiko menengah tinggi.
- Risiko tinggi.
Secara umum:
Risiko rendah → NIB
Risiko menengah rendah → NIB + Sertifikat Standar
Risiko menengah tinggi → NIB + Sertifikat Standar sesuai mekanisme verifikasi
Risiko tinggi → NIB + Izin
Namun, perusahaan harus berhati-hati dalam menggunakan pola tersebut sebagai satu-satunya acuan.
Perizinan aktual dapat dipengaruhi oleh karakteristik kegiatan usaha, standar sektor, PB UMKU, persyaratan dasar, dan ketentuan kementerian/lembaga terkait.
Sertifikat Standar untuk Risiko Menengah Rendah
Pada kegiatan usaha risiko menengah rendah, pelaku usaha pada prinsipnya harus memenuhi standar kegiatan usaha yang dipersyaratkan.
Standar tersebut dapat berkaitan dengan:
- Kualitas produk.
- Keselamatan.
- Kesehatan.
- Lingkungan.
- Kompetensi tenaga kerja.
- Sarana dan prasarana.
- Prosedur operasional.
- Persyaratan teknis tertentu.
Sertifikat Standar menjadi bagian penting dari proses legalitas kegiatan usaha karena perusahaan tidak hanya diwajibkan mendaftarkan kegiatan, tetapi juga harus memenuhi standar yang ditetapkan.
Apa yang harus dilakukan perusahaan?
Perusahaan sebaiknya:
- Memastikan KBLI benar.
- Memeriksa tingkat risiko.
- Membaca standar kegiatan usaha.
- Menyiapkan dokumen pendukung.
- Mengisi data dengan benar.
- Menyatakan pemenuhan standar sesuai ketentuan.
- Memantau status perizinan melalui OSS.
Jangan sampai perusahaan memiliki NIB tetapi belum memperhatikan kewajiban standar yang melekat pada kegiatan usaha.
Sertifikat Standar untuk Risiko Menengah Tinggi
Risiko menengah tinggi mempunyai mekanisme yang lebih ketat dibandingkan risiko menengah rendah.
Dalam proses OSS, pelaku usaha dapat diminta melakukan pemenuhan standar usaha dan proses verifikasi sesuai ketentuan.
Panduan resmi OSS untuk risiko menengah tinggi menunjukkan bahwa proses pemenuhan dilakukan melalui menu pemenuhan persyaratan dan diarahkan pada pemenuhan standar usaha.
Pada tahap ini, perusahaan perlu memahami bahwa terdapat perbedaan antara:
Sertifikat Standar belum terverifikasi
dan
Sertifikat Standar telah terverifikasi.
Perbedaan status tersebut sangat penting.
Dokumen panduan OSS untuk risiko menengah tinggi menunjukkan bahwa setelah proses verifikasi, dokumen yang dapat terbit mencakup NIB dan Sertifikat Standar yang sudah terverifikasi.
Artinya, perusahaan tidak boleh hanya melihat bahwa dokumen Sertifikat Standar sudah muncul dalam sistem.
Perusahaan harus memeriksa status pemenuhannya.
Apa Arti Sertifikat Standar Terverifikasi?
Sertifikat Standar terverifikasi menunjukkan bahwa standar yang dipersyaratkan telah melalui mekanisme verifikasi sesuai dengan ketentuan.
Verifikasi dapat melibatkan pihak yang berwenang sesuai sektor kegiatan usaha.
Contohnya, suatu sektor dapat memiliki standar teknis yang membutuhkan pemeriksaan oleh instansi tertentu.
Karena itu, perusahaan harus melihat:
- Siapa yang melakukan verifikasi.
- Standar apa yang diverifikasi.
- Dokumen apa yang harus disiapkan.
- Apakah terdapat pemeriksaan lapangan.
- Apakah terdapat persyaratan tambahan.
- Apakah status sudah terverifikasi.
- Apakah terdapat masa berlaku atau kewajiban lanjutan.
Dengan demikian, Sertifikat Standar terverifikasi bukan sekadar hasil klik pada sistem OSS, tetapi merupakan bagian dari proses kepatuhan terhadap standar kegiatan usaha.
Kapan Perusahaan Membutuhkan Izin?
Izin diperlukan ketika kegiatan usaha masuk dalam kategori yang mensyaratkan Perizinan Berusaha berupa Izin.
Pada umumnya, hal ini berkaitan dengan kegiatan usaha risiko tinggi.
Risiko tinggi berarti kegiatan tersebut memiliki potensi bahaya yang lebih besar sehingga membutuhkan instrumen pengendalian yang lebih ketat.
Contohnya dapat mencakup kegiatan yang berpotensi memiliki dampak signifikan terhadap:
- Keselamatan.
- Kesehatan.
- Lingkungan.
- Masyarakat.
- Sumber daya.
- Kepentingan umum.
Namun, contoh sektor tidak boleh digunakan untuk menentukan izin secara otomatis.
Perusahaan tetap harus memeriksa KBLI dan ketentuan sektoral yang berlaku.
Mengapa Izin Lebih Ketat Dibandingkan Sertifikat Standar?
Perbedaan utama terletak pada pendekatan pengendalian risiko.
Sertifikat Standar berfokus pada pemenuhan standar kegiatan usaha.
Sementara Izin merupakan instrumen legalitas untuk kegiatan yang membutuhkan tingkat pengendalian lebih tinggi berdasarkan tingkat risiko dan ketentuan sektoral.
Secara sederhana:
Sertifikat Standar menjawab pertanyaan: apakah standar kegiatan usaha telah dipenuhi?
Sedangkan:
Izin menjawab kebutuhan legalitas kegiatan usaha yang berdasarkan ketentuan harus mendapatkan izin.
Karena itu, keduanya tidak dapat dipertukarkan.
Perusahaan tidak dapat menganggap Sertifikat Standar sebagai pengganti Izin apabila kegiatan usaha memang diwajibkan memiliki Izin.
NIB Bukan Pengganti Sertifikat Standar atau Izin
Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi adalah anggapan bahwa setelah NIB terbit, seluruh proses perizinan telah selesai.
Padahal, NIB merupakan salah satu instrumen utama dalam OSS dan menjadi identitas resmi pelaku usaha.
Situs resmi OSS menjelaskan bahwa NIB merupakan identitas resmi untuk memulai atau menjalankan usaha di Indonesia.
Namun, kebutuhan perizinan lainnya bergantung pada tingkat risiko dan kegiatan usaha.
Contohnya:
Perusahaan A
Risiko rendah → NIB.
Perusahaan B
Risiko menengah rendah → NIB + Sertifikat Standar.
Perusahaan C
Risiko menengah tinggi → NIB + Sertifikat Standar sesuai proses verifikasi.
Perusahaan D
Risiko tinggi → NIB + Izin.
Jadi, NIB harus dilihat sebagai bagian dari keseluruhan sistem Perizinan Berusaha, bukan selalu sebagai satu-satunya dokumen.
Perbedaan Sertifikat Standar Belum Terverifikasi dan Terverifikasi
Bagi perusahaan yang memiliki kegiatan usaha risiko menengah tinggi, status Sertifikat Standar menjadi sangat penting.
| Status | Makna Umum | Tindakan Perusahaan |
|---|---|---|
| Belum terverifikasi | Standar belum selesai melalui proses verifikasi | Lengkapi persyaratan |
| Dalam proses | Sedang menunggu proses sesuai kewenangan | Monitor status |
| Terverifikasi | Standar telah diverifikasi sesuai ketentuan | Pastikan kewajiban lanjutan |
| Ditolak/dikembalikan | Ada persyaratan yang belum sesuai | Perbaiki dan lengkapi |
Status tersebut perlu dipantau secara berkala melalui sistem OSS.
Perusahaan juga harus membaca alasan apabila terdapat permintaan perbaikan atau pemenuhan dokumen tambahan.
Kesalahan Umum dalam Memahami Sertifikat Standar dan Izin
1. Menganggap semua usaha cukup dengan NIB
Ini merupakan salah satu kesalahan paling umum.
Tidak semua kegiatan usaha memiliki tingkat risiko rendah.
2. Menganggap Sertifikat Standar sama dengan Izin
Keduanya memiliki fungsi dan mekanisme berbeda.
3. Tidak memeriksa status verifikasi
Khusus kegiatan risiko menengah tinggi, status verifikasi harus diperhatikan.
4. Salah memilih KBLI
KBLI menjadi salah satu dasar penting dalam menentukan karakteristik kegiatan usaha dan kebutuhan perizinan.
5. Mengabaikan ketentuan sektoral
Peraturan teknis masing-masing sektor dapat memberikan standar tambahan.
Sebagai contoh, setelah PP Nomor 28 Tahun 2025, berbagai kementerian/lembaga menerbitkan regulasi teknis sektor masing-masing. Kementerian Perindustrian, misalnya, menerbitkan Permenperin Nomor 37 Tahun 2025 mengenai standar kegiatan usaha dan/atau standar produk/jasa sektor perindustrian.
6. Tidak memperbarui data usaha
Perubahan kegiatan, lokasi, skala, atau informasi lainnya dapat memengaruhi pemenuhan perizinan.
Cara Menentukan Apakah Usaha Membutuhkan Sertifikat Standar atau Izin
Perusahaan dapat menggunakan alur sederhana berikut.
Langkah 1: Identifikasi kegiatan usaha
Tulis seluruh kegiatan yang benar-benar dilakukan perusahaan.
Langkah 2: Tentukan KBLI
Pastikan kode dan uraian KBLI sesuai dengan aktivitas nyata perusahaan.
Langkah 3: Periksa tingkat risiko
Gunakan sistem OSS untuk melihat klasifikasi risiko berdasarkan kegiatan usaha.
Langkah 4: Identifikasi dokumen
Tentukan apakah kegiatan membutuhkan:
- NIB.
- Sertifikat Standar.
- Sertifikat Standar terverifikasi.
- Izin.
- PB UMKU.
- Persyaratan dasar.
- Dokumen sektoral.
Langkah 5: Periksa standar teknis
Jangan berhenti pada informasi yang muncul secara umum. Periksa ketentuan sektoral.
Langkah 6: Penuhi persyaratan
Siapkan dokumen dan lakukan proses pemenuhan melalui OSS.
Langkah 7: Verifikasi status
Pastikan dokumen sudah memiliki status yang sesuai sebelum perusahaan menjalankan kegiatan yang mensyaratkan pemenuhan tersebut.
Tabel Ringkas: Sertifikat Standar vs Izin
| Pertanyaan | Sertifikat Standar | Izin |
|---|---|---|
| Untuk kegiatan risiko apa? | Umumnya risiko menengah | Risiko tinggi |
| Apakah membutuhkan NIB? | Ya | Ya |
| Fokus utama | Pemenuhan standar | Pemenuhan persyaratan izin |
| Apakah bisa diverifikasi? | Ya, terutama risiko menengah tinggi | Sesuai mekanisme izin |
| Apakah semua Sertifikat Standar langsung terverifikasi? | Tidak selalu | Tidak relevan dengan mekanisme yang sama |
| Apakah menggantikan Izin? | Tidak | Tidak |
| Apakah harus memperhatikan aturan sektor? | Ya | Ya |
| Apakah persyaratan dasar tetap penting? | Ya | Ya |
Pentingnya Memahami KBLI Sebelum Mengurus OSS
KBLI memiliki posisi strategis dalam proses perizinan.
Kesalahan memilih KBLI dapat menyebabkan perusahaan memperoleh klasifikasi kegiatan yang tidak sesuai dengan aktivitas sebenarnya.
Dampaknya dapat berupa:
- Jenis risiko tidak sesuai.
- Sertifikat Standar yang muncul tidak sesuai.
- Izin yang diperlukan tidak teridentifikasi.
- Persyaratan dasar tidak tepat.
- Kewajiban sektoral terlewat.
- Potensi masalah ketika dilakukan pengawasan.
Karena itu, perusahaan perlu melakukan review KBLI sebelum mengurus atau memperbarui perizinan.
Perizinan Berbasis Risiko Tidak Berhenti pada Penerbitan Dokumen
Satu hal yang penting dipahami adalah perizinan bukan hanya tentang mendapatkan dokumen.
PP Nomor 28 Tahun 2025 juga mengatur pengawasan, evaluasi, penyelesaian permasalahan, dan sanksi dalam penyelenggaraan PBBR.
Artinya, perusahaan harus menjaga agar kegiatan usaha tetap sesuai dengan:
- Data yang tercantum dalam OSS.
- Standar kegiatan usaha.
- Persyaratan lingkungan.
- Persyaratan teknis.
- Ketentuan sektoral.
- Kewajiban pelaporan.
- Ketentuan pengawasan.
Perizinan yang sudah diterbitkan bukan berarti perusahaan dapat mengabaikan kewajiban setelahnya.
Bagaimana Perusahaan Menjaga Kepatuhan OSS RBA?
Perusahaan dapat membuat OSS Compliance Checklist secara berkala.
Contohnya:
- Data perusahaan sesuai.
- NIB aktif dan sesuai.
- KBLI sesuai kegiatan aktual.
- Tingkat risiko sudah diperiksa.
- Sertifikat Standar sudah dipenuhi.
- Status Sertifikat Standar sudah diverifikasi apabila diperlukan.
- Izin telah dipenuhi apabila diwajibkan.
- Persyaratan dasar telah dipenuhi.
- PB UMKU telah dipetakan.
- Dokumen sektoral tersedia.
- Perubahan kegiatan telah diperbarui.
- Kewajiban pasca-perizinan telah dipantau.
Checklist ini dapat menjadi bagian dari sistem internal legal compliance perusahaan.
Peran Inhouse Training dalam Meningkatkan Kompetensi Tim Perizinan
Perubahan regulasi membuat tim perusahaan perlu memahami bukan hanya cara menggunakan sistem OSS, tetapi juga konsep di balik perizinan berbasis risiko.
Pelatihan internal dapat membantu peserta memahami hubungan antara:
KBLI → Tingkat Risiko → NIB → Sertifikat Standar/Izin → Verifikasi → Operasional → Pengawasan
Pendekatan tersebut jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengajarkan langkah teknis pengisian OSS.
Perusahaan yang ingin memperkuat kemampuan tim dapat mengikuti Inhouse Training OSS RBA: Pelatihan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko untuk Perusahaan sebagai bagian dari pengembangan kompetensi SDM yang menangani legalitas dan kepatuhan usaha.
Materi pelatihan dapat diarahkan pada kebutuhan perusahaan, termasuk pemetaan KBLI, identifikasi tingkat risiko, pemenuhan Sertifikat Standar, proses verifikasi, kebutuhan Izin, serta pemantauan kepatuhan.
Sumber Resmi OSS RBA
Pelaku usaha sebaiknya menggunakan sumber resmi ketika memeriksa informasi perizinan.
Portal OSS Republik Indonesia merupakan portal resmi untuk layanan perizinan berusaha. OSS juga menyediakan panduan pengajuan perizinan berdasarkan tingkat risiko.
Untuk dasar hukum, perusahaan dapat merujuk pada PP Nomor 28 Tahun 2025 di Database Peraturan BPK. Regulasi ini berlaku sejak 5 Juni 2025 dan mencabut PP Nomor 5 Tahun 2021.
FAQ Sertifikat Standar dan Izin OSS RBA
Apakah Sertifikat Standar sama dengan Izin?
Tidak. Sertifikat Standar berkaitan dengan pemenuhan standar kegiatan usaha, sedangkan Izin merupakan bentuk Perizinan Berusaha yang digunakan untuk kegiatan usaha yang menurut ketentuan memerlukan izin, terutama pada kegiatan risiko tinggi.
Apakah usaha risiko menengah pasti membutuhkan Sertifikat Standar?
Secara umum, kegiatan usaha risiko menengah menggunakan NIB dan Sertifikat Standar, dengan mekanisme pemenuhan yang berbeda antara risiko menengah rendah dan menengah tinggi. Detailnya harus diperiksa berdasarkan kegiatan usaha dan ketentuan sektoral.
Apa perbedaan Sertifikat Standar dan Sertifikat Standar terverifikasi?
Sertifikat Standar terverifikasi menunjukkan bahwa proses verifikasi terhadap standar yang dipersyaratkan telah dilakukan sesuai mekanisme yang berlaku. Pada risiko menengah tinggi, status verifikasi menjadi bagian penting dalam proses pemenuhan perizinan.
Apakah NIB sudah cukup untuk usaha risiko tinggi?
Tidak. Untuk kegiatan usaha yang dikategorikan risiko tinggi dan memerlukan Izin, pelaku usaha harus memenuhi persyaratan Izin selain memiliki NIB sesuai ketentuan yang berlaku. Panduan resmi OSS membedakan proses pemenuhan standar untuk risiko menengah tinggi dan pemenuhan persyaratan Izin untuk risiko tinggi.
Kesimpulan
Sertifikat Standar dan Izin bukanlah dokumen yang sama.
Sertifikat Standar terutama berkaitan dengan pemenuhan standar kegiatan usaha pada kelompok risiko menengah, sedangkan Izin digunakan untuk kegiatan usaha yang berdasarkan ketentuan memerlukan izin, terutama kategori risiko tinggi.
Secara sederhana:
Risiko rendah → NIB
Risiko menengah rendah → NIB + Sertifikat Standar
Risiko menengah tinggi → NIB + Sertifikat Standar dengan mekanisme verifikasi sesuai ketentuan
Risiko tinggi → NIB + Izin
Namun, perusahaan tidak boleh hanya mengandalkan klasifikasi umum tersebut. Setiap kegiatan usaha harus diperiksa berdasarkan KBLI, tingkat risiko, sektor usaha, persyaratan dasar, standar kegiatan usaha, PB UMKU, serta regulasi teknis yang berlaku.
Dengan memahami perbedaan Sertifikat Standar dan Izin, perusahaan dapat menghindari kesalahan administratif, meningkatkan kepatuhan, serta memastikan kegiatan usaha berjalan sesuai ketentuan.
Bangun tim perizinan yang lebih kompeten dan siap menghadapi perubahan regulasi OSS RBA.
Tingkatkan kemampuan tim Anda dalam memahami KBLI, tingkat risiko, Sertifikat Standar, verifikasi, Izin, hingga pemenuhan persyaratan OSS RBA melalui pelatihan yang aplikatif dan sesuai kebutuhan perusahaan.
Hubungi kami :
www.pskn.co.od
Admin 0812-6660-0643