PELATIHAN BUMN/BUMD, PELATIHAN PERUSAHAAN

Training Enterprise Risk Management: Strategi Membangun Manajemen Risiko Terintegrasi dan Berkelanjutan

Organisasi modern menghadapi lingkungan yang semakin kompleks. Perubahan teknologi, dinamika pasar, regulasi, kondisi ekonomi, keamanan informasi, perubahan perilaku pelanggan, tuntutan stakeholder, hingga risiko fraud dapat memengaruhi pencapaian tujuan organisasi.

Dalam kondisi seperti ini, manajemen risiko tidak lagi cukup dilakukan secara parsial oleh satu departemen. Risiko strategis dapat berdampak pada keuangan, risiko operasional dapat memengaruhi reputasi, risiko teknologi dapat mengganggu pelayanan, sementara risiko kepatuhan dapat menimbulkan konsekuensi hukum dan finansial.

Karena itu, organisasi membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh melalui Enterprise Risk Management (ERM).

Training Enterprise Risk Management dirancang untuk membantu pimpinan, manajer, risk officer, internal auditor, compliance officer, dan pemilik risiko memahami bagaimana membangun sistem manajemen risiko yang terintegrasi dengan strategi, proses bisnis, pengendalian internal, pengambilan keputusan, dan pencapaian tujuan organisasi.

Pendekatan ERM membuat organisasi tidak hanya bertanya mengenai risiko apa yang mungkin terjadi, tetapi juga bagaimana risiko tersebut saling berhubungan, bagaimana dampaknya terhadap tujuan strategis, siapa pemilik risikonya, bagaimana mitigasinya, dan bagaimana manajemen menggunakan informasi risiko untuk mengambil keputusan.

Bagi organisasi yang ingin memahami dasar-dasar manajemen risiko secara lebih luas, artikel Training Risk Management: Panduan Lengkap Membangun Manajemen Risiko yang Efektif dan Terintegrasi dapat menjadi referensi utama sebelum masuk ke pembahasan Enterprise Risk Management secara lebih mendalam.

Daftar Isi

Apa Itu Enterprise Risk Management?

Enterprise Risk Management atau ERM adalah pendekatan terintegrasi dan sistematis dalam mengelola berbagai risiko organisasi secara menyeluruh dengan menghubungkan risiko terhadap strategi, tujuan, proses bisnis, kinerja, pengendalian, dan pengambilan keputusan.

Berbeda dengan pendekatan tradisional yang sering membagi risiko berdasarkan departemen, ERM melihat organisasi sebagai satu kesatuan.

Sebagai contoh, perusahaan memiliki risiko keamanan siber.

Jika risiko tersebut hanya dilihat sebagai tanggung jawab departemen IT, dampaknya mungkin dianggap sebatas gangguan sistem.

Namun dalam pendekatan ERM, risiko tersebut dapat dianalisis lebih luas:

  • Apa dampaknya terhadap operasional?
  • Apakah pelayanan pelanggan terganggu?
  • Apakah terdapat risiko kehilangan data?
  • Apakah ada risiko hukum?
  • Apakah reputasi perusahaan terdampak?
  • Apakah target pendapatan terganggu?
  • Apakah terdapat risiko fraud?
  • Berapa besar biaya pemulihan?
  • Apakah risiko tersebut berada dalam risk appetite perusahaan?

Dengan perspektif tersebut, risiko menjadi bagian dari keputusan strategis organisasi.

Mengapa Enterprise Risk Management Semakin Penting?

Organisasi tidak beroperasi dalam kondisi yang stabil. Lingkungan bisnis dan pemerintahan terus berubah.

Perubahan tersebut dapat menciptakan risiko baru maupun mengubah tingkat risiko yang sudah ada.

Beberapa faktor yang membuat ERM semakin penting antara lain:

  • Digitalisasi proses bisnis.
  • Ancaman keamanan siber.
  • Perubahan regulasi.
  • Ketidakpastian ekonomi.
  • Perubahan rantai pasok.
  • Persaingan bisnis.
  • Perubahan kebutuhan pelanggan.
  • Risiko geopolitik.
  • Perubahan teknologi.
  • Risiko fraud.
  • Risiko reputasi.
  • Perubahan sumber daya manusia.
  • Gangguan operasional.
  • Risiko keberlanjutan.

Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan juga menekankan pentingnya mengintegrasikan manajemen risiko dalam proses organisasi. Dalam perkembangan terbaru, BPKP mendorong agar manajemen risiko menjadi dasar pengambilan keputusan strategis, bukan sekadar pemenuhan dokumen.

Perbedaan Risk Management dan Enterprise Risk Management

Risk Management dan Enterprise Risk Management saling berkaitan, tetapi memiliki cakupan yang berbeda.

Aspek Risk Management Enterprise Risk Management
Cakupan Dapat fokus pada risiko tertentu Seluruh organisasi
Perspektif Risiko individual/unit Portofolio risiko organisasi
Fokus Pengelolaan risiko Integrasi risiko dengan strategi
Pemilik Unit atau risk owner Seluruh tingkatan organisasi
Pengambilan keputusan Operasional maupun taktis Strategis dan lintas organisasi
Integrasi Dapat bersifat parsial Terintegrasi
Tujuan Mengendalikan risiko Mengoptimalkan pencapaian tujuan berbasis risiko

Dengan demikian, ERM dapat dipandang sebagai pendekatan yang membawa manajemen risiko ke level organisasi secara lebih menyeluruh.

Tujuan Training Enterprise Risk Management

Training Enterprise Risk Management bukan hanya bertujuan memberikan pemahaman teori.

Pelatihan yang baik harus membantu peserta memahami bagaimana prinsip ERM diterapkan dalam kondisi nyata.

Tujuan utama pelatihan dapat meliputi:

  1. Memahami konsep Enterprise Risk Management.
  2. Memahami hubungan risiko dengan strategi organisasi.
  3. Mengidentifikasi berbagai jenis risiko organisasi.
  4. Melakukan risk assessment.
  5. Menentukan prioritas risiko.
  6. Menyusun risk register.
  7. Menentukan risk owner.
  8. Menyusun risk treatment plan.
  9. Memahami risk appetite dan risk tolerance.
  10. Mengembangkan Key Risk Indicator.
  11. Mengintegrasikan risiko dengan pengendalian internal.
  12. Membangun risk reporting.
  13. Mengembangkan budaya sadar risiko.
  14. Memahami hubungan ERM dengan governance.
  15. Mengembangkan sistem monitoring dan review.

Enterprise Risk Management dan Strategi Organisasi

Salah satu karakteristik utama ERM adalah keterkaitannya dengan strategi.

Strategi tanpa mempertimbangkan risiko dapat menghasilkan target yang terlalu optimistis.

Sebaliknya, organisasi yang terlalu takut terhadap risiko dapat kehilangan peluang.

ERM membantu organisasi mencari keseimbangan antara risiko dan peluang.

Contohnya, sebuah perusahaan ingin memasuki pasar baru.

Peluangnya adalah peningkatan pendapatan.

Namun terdapat risiko:

  • Persaingan tinggi.
  • Regulasi berbeda.
  • Kebutuhan investasi besar.
  • Ketidakpastian permintaan.
  • Risiko supply chain.
  • Risiko reputasi.
  • Risiko SDM.
  • Risiko teknologi.

Sebelum keputusan investasi dibuat, manajemen dapat melakukan strategic risk assessment.

Hasilnya menjadi salah satu input dalam keputusan apakah strategi tersebut:

  • Dilanjutkan.
  • Disesuaikan.
  • Ditunda.
  • Dijalankan secara bertahap.
  • Atau dibatalkan.

Inilah nilai strategis ERM.

Komponen Penting dalam Enterprise Risk Management

Penerapan ERM dapat berbeda berdasarkan framework dan kebutuhan organisasi. Namun secara praktis, terdapat beberapa komponen penting yang perlu dibangun.

Governance dan Leadership

ERM membutuhkan komitmen pimpinan.

Tanpa dukungan pimpinan, manajemen risiko berpotensi menjadi aktivitas administratif.

Pimpinan perlu memastikan:

  • Struktur pengelolaan risiko tersedia.
  • Peran dan tanggung jawab jelas.
  • Risk owner memahami tanggung jawabnya.
  • Risiko dibahas dalam pengambilan keputusan.
  • Risk appetite ditetapkan.
  • Pelaporan risiko berjalan.
  • Budaya risiko dikembangkan.

Risk Strategy

Organisasi perlu menentukan bagaimana risiko akan dikelola untuk mendukung strategi.

Risk strategy dapat menjelaskan:

  • Prioritas risiko.
  • Risk appetite.
  • Risk tolerance.
  • Pendekatan mitigasi.
  • Governance.
  • Reporting.
  • Monitoring.

Risk Identification

Organisasi harus memahami risiko yang dapat memengaruhi tujuan.

Identifikasi dapat dilakukan berdasarkan:

  • Strategi.
  • Program.
  • Proses bisnis.
  • Proyek.
  • Produk.
  • Teknologi.
  • Keuangan.
  • SDM.
  • Kepatuhan.

Risk Assessment

Setelah risiko ditemukan, organisasi perlu menganalisis kemungkinan dan dampaknya.

Pendekatan yang umum digunakan adalah penilaian likelihood dan impact.

Contoh:

Risiko Likelihood Impact Level
Gangguan sistem 4 5 Tinggi
Fraud pembayaran 3 5 Tinggi
Keterlambatan vendor 3 4 Sedang-Tinggi
Turnover pegawai 3 3 Sedang

Penilaian harus disesuaikan dengan metodologi organisasi.

Risk Treatment

Setelah risiko diprioritaskan, organisasi menentukan tindakan.

Strateginya dapat berupa:

  • Avoid.
  • Reduce.
  • Transfer.
  • Accept.
  • Exploit untuk peluang.

Tindakan mitigasi harus konkret, terukur, memiliki PIC, dan memiliki target waktu.

Risk Appetite dalam Enterprise Risk Management

Risk appetite merupakan salah satu konsep penting dalam ERM.

Secara sederhana, risk appetite menggambarkan tingkat risiko yang bersedia diterima organisasi dalam rangka mencapai tujuan.

Sebagai contoh:

Perusahaan memiliki risk appetite tinggi terhadap inovasi produk, tetapi risk appetite rendah terhadap:

  • Pelanggaran hukum.
  • Kebocoran data.
  • Fraud.
  • Keselamatan kerja.
  • Manipulasi laporan keuangan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak semua risiko diperlakukan sama.

Dengan risk appetite yang jelas, pengambil keputusan memiliki batasan yang lebih terarah.

Risk Tolerance dan Risk Capacity

Selain risk appetite, organisasi juga perlu memahami risk tolerance dan risk capacity.

Risk appetite berkaitan dengan tingkat risiko yang bersedia diambil.

Risk tolerance berkaitan dengan batas penyimpangan yang masih dapat diterima.

Risk capacity menggambarkan kemampuan organisasi untuk menanggung risiko tanpa mengganggu keberlangsungan organisasi.

Ketiga konsep tersebut membantu organisasi mengambil keputusan secara lebih terukur.

Risk Register dalam Enterprise Risk Management

Risk register merupakan salah satu alat penting untuk mendokumentasikan risiko.

Namun dalam ERM, risk register sebaiknya tidak hanya dibuat oleh masing-masing unit secara terpisah.

Organisasi perlu memiliki pendekatan yang memungkinkan risiko unit dikonsolidasikan sehingga manajemen dapat melihat enterprise risk profile.

Contoh struktur risk register:

Elemen Contoh
Objective Meningkatkan pelayanan
Risk Event Sistem pelayanan gagal
Cause Infrastruktur tidak memadai
Consequence Pelayanan terganggu
Likelihood 4
Impact 5
Inherent Risk Tinggi
Existing Control Backup system
Residual Risk Sedang
Risk Owner IT Manager
Mitigation Upgrade infrastructure
Target Desember 2026

Data tersebut kemudian dapat dikonsolidasikan menjadi risk profile organisasi.

Enterprise Risk Profile

Enterprise risk profile memberikan gambaran mengenai risiko utama organisasi.

Risk profile dapat membantu manajemen mengetahui:

  • Risiko apa yang paling tinggi?
  • Risiko apa yang meningkat?
  • Risiko apa yang menurun?
  • Risiko apa yang berada di atas tolerance?
  • Risiko mana yang membutuhkan keputusan manajemen?
  • Risiko mana yang memiliki hubungan dengan risiko lainnya?

Contoh risiko utama:

  1. Strategic risk.
  2. Financial risk.
  3. Operational risk.
  4. Compliance risk.
  5. Technology risk.
  6. Cyber risk.
  7. Human capital risk.
  8. Reputation risk.
  9. Fraud risk.
  10. Project risk.

Dengan risk profile, manajemen dapat mengalokasikan sumber daya kepada risiko yang paling material.

Hubungan ERM dengan Internal Control

ERM tidak dapat dipisahkan dari pengendalian internal.

Risiko menunjukkan apa yang dapat menghambat tujuan.

Pengendalian membantu mengurangi kemungkinan maupun dampak risiko.

Namun pengendalian juga harus dinilai efektivitasnya.

Misalnya:

Risiko: Fraud transaksi.

Pengendalian:

  • Segregation of duties.
  • Approval.
  • Reconciliation.
  • Audit trail.
  • Monitoring.
  • Whistleblowing system.

Pertanyaan berikutnya adalah:

Apakah pengendalian tersebut benar-benar efektif?

Jika tidak, residual risk tetap tinggi.

Dalam konteks sektor publik Indonesia, manajemen risiko juga berkaitan erat dengan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. BPKP menjelaskan bahwa penerapan SPIP mencakup proses manajemen risiko dalam rangka memberikan keyakinan memadai atas pencapaian tujuan organisasi.

Untuk referensi regulasi dan pedoman, pembaca dapat mengakses JDIH BPKP – Pedoman Pelaksanaan Penilaian Risiko di Lingkungan Instansi Pemerintah.

Enterprise Risk Management untuk Pemerintah dan BUMD

ERM tidak hanya relevan bagi perusahaan swasta.

Konsep pengelolaan risiko juga semakin penting bagi:

  • Kementerian/Lembaga.
  • Pemerintah daerah.
  • OPD.
  • BUMN.
  • BUMD.
  • BLUD.
  • Rumah sakit.
  • Perguruan tinggi.
  • Badan layanan publik.

BPKP pada 2026 juga mendorong integrasi manajemen risiko lintas sektor dalam konteks pembangunan daerah. Hal ini menunjukkan semakin pentingnya melihat risiko bukan hanya pada satu unit, tetapi juga pada hubungan antarprogram, sektor, dan organisasi.

Untuk organisasi sektor publik, ERM dapat membantu menghubungkan:

Tujuan → Program → Risiko → Pengendalian → Kinerja → Monitoring

Dengan hubungan tersebut, risiko tidak menjadi dokumen yang terpisah dari perencanaan.

Contoh Kasus Enterprise Risk Management

Bayangkan sebuah perusahaan energi menjalankan proyek pembangunan fasilitas baru.

Target proyek adalah selesai dalam 18 bulan dengan anggaran tertentu.

Pada tahap awal ditemukan beberapa risiko:

Risiko Dampak
Keterlambatan pengadaan Proyek terlambat
Perubahan regulasi Desain harus disesuaikan
Kenaikan harga material Anggaran meningkat
Kecelakaan kerja Operasional dan reputasi terdampak
Kegagalan teknologi Target produksi tidak tercapai
Vendor gagal Jadwal proyek terganggu

Jika risiko dikelola secara terpisah, masing-masing departemen mungkin hanya fokus pada risiko mereka.

Dengan ERM, seluruh risiko dipetakan dalam satu enterprise risk profile.

Manajemen kemudian dapat melihat bahwa beberapa risiko saling berhubungan.

Contohnya:

Vendor gagal → keterlambatan material → proyek terlambat → biaya meningkat → target produksi tertunda → pendapatan turun.

Satu risiko awal ternyata dapat menghasilkan rangkaian konsekuensi.

ERM membantu organisasi melihat hubungan tersebut.

ERM dan Fraud Risk Management

Fraud risk juga harus menjadi bagian dari enterprise risk profile.

BPKP pada 2026 menyelenggarakan workshop Enterprise Fraud Risk Assessment bagi OPD dengan pendekatan Fraud Risk Universe sebagai dasar penguatan pengendalian intern dan strategi pencegahan korupsi.

Hal tersebut menunjukkan bahwa risiko fraud perlu dipetakan secara sistematis.

Dalam ERM, fraud risk dapat dianalisis berdasarkan:

  • Fraud scheme.
  • Fraud opportunity.
  • Fraud incentive.
  • Fraud pressure.
  • Fraud control.
  • Fraud detection.
  • Fraud response.

Organisasi juga dapat mengintegrasikan:

  • Whistleblowing system.
  • Segregation of duties.
  • Internal audit.
  • Data analytics.
  • Conflict of interest management.
  • Monitoring transaksi.
  • Investigasi.

Three Lines dalam Enterprise Risk Management

Pembagian peran menjadi hal penting dalam ERM.

Pendekatan Three Lines membantu organisasi memperjelas fungsi:

Lini Pertama – Management/Operations

Unit operasional menjadi pemilik risiko dan menjalankan pengendalian sehari-hari.

Lini Kedua – Risk & Compliance

Fungsi risk management dan compliance membantu menetapkan framework, memberikan arahan, monitoring, dan challenge.

Lini Ketiga – Internal Audit

Internal audit memberikan assurance independen mengenai efektivitas governance, risk management, dan internal control.

Ketiga lini tersebut harus saling berkoordinasi tanpa menghilangkan independensi fungsi assurance.

Key Risk Indicator dalam ERM

Key Risk Indicator atau KRI merupakan indikator yang digunakan untuk memantau perubahan tingkat risiko.

Contoh:

Risiko KRI Batas
Cyber attack Jumlah insiden Maksimal tertentu
Vendor failure Persentase keterlambatan Maksimal tertentu
Fraud Anomali transaksi Batas tertentu
Turnover Tingkat turnover Batas tertentu
Downtime Jam gangguan sistem Batas tertentu

KRI membantu organisasi bergerak dari pendekatan reaktif menjadi lebih proaktif.

Jika KRI menunjukkan tren memburuk, organisasi dapat melakukan tindakan sebelum risiko menjadi krisis.

Risk Reporting untuk Manajemen

Laporan risiko harus sederhana tetapi memberikan informasi yang dapat digunakan untuk keputusan.

Risk report dapat berisi:

  • Top risks.
  • Risk rating.
  • Risk trend.
  • Risk owner.
  • Mitigation progress.
  • KRI.
  • Emerging risks.
  • Issues.
  • Required management action.

Hindari laporan risiko yang terlalu panjang tetapi tidak memberikan informasi penting.

Prinsipnya:

Data risiko harus berubah menjadi insight, dan insight harus membantu keputusan.

Emerging Risk

Organisasi juga perlu memantau emerging risk.

Emerging risk adalah risiko baru atau risiko yang berkembang dan belum sepenuhnya dipahami.

Contohnya:

  • Teknologi AI.
  • Perubahan model bisnis.
  • Ancaman siber baru.
  • Perubahan regulasi.
  • Perubahan iklim.
  • Perubahan rantai pasok.
  • Perubahan perilaku konsumen.

Emerging risk membutuhkan horizon scanning dan monitoring lingkungan eksternal.

Risk Culture sebagai Fondasi ERM

Sistem ERM yang bagus tidak akan berjalan jika budaya organisasi tidak mendukung.

Risk culture berarti bagaimana organisasi:

  • Membicarakan risiko.
  • Mengambil keputusan.
  • Melaporkan masalah.
  • Menanggapi kesalahan.
  • Menetapkan tanggung jawab.
  • Menghargai transparansi.

Budaya risiko yang sehat bukan berarti semua pegawai takut mengambil keputusan.

Sebaliknya, pegawai memahami risiko dan berani mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Manfaat Training Enterprise Risk Management bagi Peserta

Setelah mengikuti pelatihan, peserta diharapkan memiliki kemampuan untuk:

  • Memahami konsep ERM.
  • Mengidentifikasi enterprise risk.
  • Menghubungkan risiko dengan tujuan.
  • Menyusun risk register.
  • Melakukan risk assessment.
  • Menentukan risk owner.
  • Menyusun risk treatment.
  • Memahami risk appetite.
  • Memahami risk tolerance.
  • Menyusun risk profile.
  • Mengembangkan KRI.
  • Menyusun risk report.
  • Mengembangkan risk culture.
  • Mengintegrasikan risiko dengan pengendalian internal.

Siapa yang Perlu Mengikuti Training Enterprise Risk Management?

Program ini relevan bagi:

Peserta Fokus Manfaat
Direksi Strategic risk decision
Komisaris Risk oversight
Risk Manager ERM framework
General Manager Enterprise risk
Manager Risk ownership
Supervisor Operational risk
Internal Auditor Risk-based assurance
Compliance Compliance risk
Finance Financial risk
HR Human capital risk
IT Manager Technology & cyber risk
Procurement Supply chain & vendor risk
Project Manager Project risk

Materi Training Enterprise Risk Management

Program Training Enterprise Risk Management dapat dikembangkan menjadi beberapa modul.

Modul 1 – Fundamental Enterprise Risk Management

  • Konsep ERM.
  • Risk management vs ERM.
  • Risk-based thinking.
  • Governance.
  • Risk culture.

Modul 2 – Risk Governance

  • Peran board.
  • Peran management.
  • Risk owner.
  • Risk function.
  • Internal audit.
  • Three Lines.

Modul 3 – Enterprise Risk Assessment

  • Risk identification.
  • Risk analysis.
  • Risk evaluation.
  • Risk scoring.
  • Risk prioritization.

Modul 4 – Risk Appetite Framework

  • Risk appetite.
  • Risk tolerance.
  • Risk capacity.
  • Risk limit.
  • Risk escalation.

Modul 5 – Enterprise Risk Register

  • Risk statement.
  • Risk cause.
  • Risk consequence.
  • Existing control.
  • Inherent risk.
  • Residual risk.
  • Mitigation.

Modul 6 – Risk Profile dan KRI

  • Top risk.
  • Risk dashboard.
  • Risk trend.
  • Key Risk Indicator.
  • Early warning indicator.

Modul 7 – Risk Treatment

  • Avoid.
  • Reduce.
  • Transfer.
  • Accept.
  • Exploit.

Modul 8 – Risk Reporting

  • Risk report.
  • Executive dashboard.
  • Management reporting.
  • Risk escalation.

Modul 9 – ERM Workshop

Peserta melakukan simulasi penyusunan:

  • Risk universe.
  • Risk register.
  • Risk matrix.
  • Risk profile.
  • KRI.
  • Risk treatment plan.

Metode Pembelajaran Training Enterprise Risk Management

Training akan lebih efektif apabila peserta tidak hanya menerima materi teori.

Metode yang dapat digunakan:

  • Interactive presentation.
  • Studi kasus.
  • Diskusi kelompok.
  • Risk assessment workshop.
  • Simulasi risk mapping.
  • Penyusunan risk register.
  • Penyusunan risk profile.
  • Presentasi kelompok.
  • Review dan feedback trainer.

Untuk in-house training, studi kasus dapat disesuaikan dengan sektor dan proses bisnis organisasi.

Bagaimana Mengukur Keberhasilan Implementasi ERM?

Keberhasilan ERM tidak hanya dilihat dari apakah organisasi memiliki risk register.

Beberapa indikator yang dapat digunakan antara lain:

  • Risiko terhubung dengan tujuan organisasi.
  • Risk owner telah ditetapkan.
  • Risk appetite telah dipahami.
  • Risk register diperbarui.
  • KRI digunakan.
  • Mitigasi memiliki target.
  • Risiko dibahas dalam forum manajemen.
  • Risk reporting digunakan untuk keputusan.
  • Pengendalian dievaluasi.
  • Risk culture berkembang.
  • Risiko strategis dipantau oleh pimpinan.

Untuk organisasi sektor publik, pengukuran maturitas juga menjadi bagian penting dari pengembangan manajemen risiko. Dokumen dan program BPKP menunjukkan adanya perhatian terhadap kualitas penerapan manajemen risiko dan pengukuran maturitas pada K/L/D.

Tahapan Membangun Enterprise Risk Management

Organisasi dapat membangun ERM secara bertahap.

Tahap pertama: Assessment

Evaluasi kondisi manajemen risiko saat ini.

Tahap kedua: Governance

Tentukan struktur, peran, tanggung jawab, dan kewenangan.

Tahap ketiga: Framework

Bangun kebijakan, metodologi, kriteria risiko, dan prosedur.

Tahap keempat: Risk Identification

Petakan risiko berdasarkan tujuan dan proses bisnis.

Tahap kelima: Risk Assessment

Nilai likelihood, impact, dan level risiko.

Tahap keenam: Risk Treatment

Tentukan strategi mitigasi dan action plan.

Tahap ketujuh: Risk Monitoring

Gunakan KRI dan monitoring berkala.

Tahap kedelapan: Reporting

Bangun laporan risiko yang relevan bagi pimpinan.

Tahap kesembilan: Continuous Improvement

Evaluasi dan tingkatkan maturity ERM secara berkelanjutan.

Kesimpulan

Enterprise Risk Management merupakan pendekatan strategis untuk mengelola risiko secara terintegrasi di seluruh organisasi.

ERM tidak hanya berbicara mengenai identifikasi risiko, tetapi bagaimana risiko dikaitkan dengan tujuan, strategi, kinerja, pengendalian internal, pengambilan keputusan, dan keberlanjutan organisasi.

Melalui Training Enterprise Risk Management, peserta dapat memahami bagaimana membangun risk governance, melakukan enterprise risk assessment, menyusun risk register, menetapkan risk appetite, mengembangkan risk profile, menentukan KRI, membangun risk reporting, serta memperkuat risk culture.

Pendekatan ini semakin relevan bagi perusahaan swasta, BUMN, BUMD, BLUD, rumah sakit, lembaga publik, kementerian, pemerintah daerah, dan berbagai organisasi yang menghadapi lingkungan penuh ketidakpastian.

Manajemen risiko yang efektif bukan berarti organisasi menghindari semua risiko. Organisasi yang matang justru mampu memahami risiko, menentukan risiko yang dapat diterima, mengendalikan risiko yang material, menangkap peluang, dan mengambil keputusan dengan informasi yang lebih baik.

Pada akhirnya, tujuan ERM adalah membantu organisasi menjadi lebih resilient, agile, accountable, dan sustainable.

FAQ Training Enterprise Risk Management

Apa yang dimaksud dengan Training Enterprise Risk Management?

Training Enterprise Risk Management adalah pelatihan yang membahas penerapan manajemen risiko secara terintegrasi di tingkat organisasi, mulai dari governance, risk identification, risk assessment, risk treatment, risk appetite, risk monitoring, hingga risk reporting.

Apa perbedaan Training Risk Management dan Training Enterprise Risk Management?

Training Risk Management membahas konsep dan proses manajemen risiko secara umum. Training Enterprise Risk Management memiliki cakupan lebih luas karena mengintegrasikan risiko dengan strategi, governance, kinerja, pengendalian internal, dan pengambilan keputusan organisasi.

Siapa yang cocok mengikuti Training Enterprise Risk Management?

Pelatihan cocok bagi direksi, komisaris, manajer, risk officer, internal auditor, compliance officer, finance, HR, IT, procurement, project manager, supervisor, serta pejabat atau pegawai yang memiliki tanggung jawab terhadap risiko organisasi.

Apakah Training Enterprise Risk Management dapat dilakukan secara in-house?

Ya. In-house training dapat disesuaikan dengan sektor, struktur organisasi, proses bisnis, risk profile, level peserta, dan kebutuhan organisasi sehingga workshop dapat menggunakan studi kasus yang lebih relevan.

Bangun Enterprise Risk Management yang Lebih Kuat Bersama PSKN

Organisasi yang ingin memperkuat kemampuan tim dalam mengelola risiko membutuhkan lebih dari sekadar teori. Dibutuhkan pemahaman yang aplikatif, studi kasus yang relevan, serta kemampuan menerjemahkan risiko menjadi keputusan dan tindakan.

PSKN Training Center menyediakan program pengembangan kompetensi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan, BUMN, BUMD, BLUD, instansi pemerintah, maupun organisasi lainnya.

Hubungi PSKN Training Center untuk merancang Training Enterprise Risk Management yang sesuai dengan kebutuhan organisasi Anda.

  • HP & WhatsApp: 0812-6660-0643
    Telepon: (021) 3454426
    Alamat: Gedung Starspace, Jl. Tanah Abang II No.74A, RT.1/RW.5, Petojo Selatan, Jakarta Pusat
    Email: info@pskn.co.id  Website : www.pskn.co.id 

Perkuat kompetensi. Integrasikan risiko dengan strategi. Bangun organisasi yang lebih resilient dan sustainable bersama PSKN Training Center.

author-avatar

About PSKN

PUSAT PENGEMBANGAN SDM DAN TEKNOLOGI INFORMASI ( TI ) TERBAIK YANG TERLETAK DI KOTA JAKARTA PUSAT

Tinggalkan Balasan