PROGRAM LAIN

Training Needs Analysis: Cara Mengidentifikasi Kebutuhan Pelatihan SDM Secara Tepat

Dalam lingkungan kerja yang terus berubah, perusahaan membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengikuti perkembangan teknologi, proses bisnis, regulasi, serta tuntutan pelanggan. Pengembangan kompetensi karyawan menjadi salah satu faktor penting agar organisasi dapat mempertahankan produktivitas sekaligus mencapai target bisnis.

Namun, salah satu tantangan dalam pengembangan SDM adalah menentukan pelatihan apa yang benar-benar dibutuhkan.

Tidak semua masalah kinerja dapat diselesaikan dengan training. Demikian pula, tidak semua karyawan membutuhkan jenis pelatihan yang sama. Pelatihan yang tidak sesuai kebutuhan berisiko membuang waktu, anggaran, dan sumber daya tanpa menghasilkan perubahan kinerja yang signifikan.

Di sinilah Training Needs Analysis (TNA) memiliki peran penting.

Training Needs Analysis merupakan proses sistematis untuk mengidentifikasi kesenjangan antara kompetensi yang dibutuhkan dengan kompetensi yang dimiliki individu, tim, atau organisasi. Hasil analisis tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan program pelatihan yang tepat.

Kementerian Ketenagakerjaan menjelaskan bahwa pelatihan kerja merupakan kegiatan untuk memberikan, memperoleh, meningkatkan, serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap, dan etos kerja sesuai dengan tingkat keterampilan dan kualifikasi pekerjaan. (Kementerian Ketenagakerjaan RI)

Dengan kata lain, pelatihan idealnya memiliki hubungan dengan kebutuhan kompetensi dan pekerjaan.

Untuk memahami konsep pengembangan kompetensi secara lebih luas, Anda juga dapat membaca Training & Pelatihan Profesional: Panduan Lengkap Pengembangan Kompetensi SDM sebagai artikel pilar yang membahas strategi, jenis, metode, dan evaluasi pengembangan kompetensi SDM.

Apa Itu Training Needs Analysis?

Training Needs Analysis atau TNA adalah proses mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran dan pengembangan kompetensi berdasarkan kesenjangan antara kondisi aktual dengan kondisi yang diharapkan.

Secara sederhana:

Kompetensi yang Dibutuhkan – Kompetensi Aktual = Competency Gap

Jika terdapat kesenjangan yang dapat diatasi melalui pembelajaran, maka training dapat menjadi salah satu solusi.

Contohnya, perusahaan membutuhkan supervisor yang mampu melakukan performance management dengan baik. Namun, hasil evaluasi menunjukkan sebagian supervisor belum mampu menyusun target, memberikan feedback, dan melakukan evaluasi kinerja.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya competency gap.

Perusahaan kemudian dapat merancang training yang berfokus pada:

  • Performance management.
  • Goal setting.
  • Feedback.
  • Coaching.
  • Performance review.
  • Performance improvement plan.

Dengan pendekatan TNA, training menjadi lebih terarah.

Mengapa Training Needs Analysis Penting?

Tanpa analisis kebutuhan, perusahaan dapat mengalami beberapa masalah.

Misalnya:

  • Training tidak sesuai kebutuhan.
  • Peserta tidak membutuhkan materi.
  • Materi terlalu umum.
  • Anggaran pelatihan tidak optimal.
  • Kompetensi yang sebenarnya bermasalah tidak terselesaikan.
  • Hasil training sulit diukur.
  • Produktivitas tidak mengalami perubahan.

TNA membantu perusahaan menjawab beberapa pertanyaan penting:

  1. Kompetensi apa yang dibutuhkan?
  2. Kompetensi apa yang sudah dimiliki?
  3. Di mana terdapat kesenjangan?
  4. Siapa yang membutuhkan pelatihan?
  5. Pelatihan apa yang paling tepat?
  6. Bagaimana metode pembelajarannya?
  7. Bagaimana hasilnya akan diukur?

Karena itu, TNA dapat menjadi dasar pengambilan keputusan sebelum organisasi mengalokasikan anggaran pelatihan.

Tujuan Training Needs Analysis

Tujuan utama TNA adalah memastikan program pengembangan kompetensi benar-benar sesuai dengan kebutuhan.

Beberapa tujuan TNA antara lain:

  • Mengidentifikasi competency gap.
  • Menentukan kebutuhan pelatihan.
  • Menentukan prioritas pengembangan.
  • Menentukan peserta yang membutuhkan training.
  • Menghindari pelatihan yang tidak relevan.
  • Mengoptimalkan anggaran.
  • Menentukan metode pembelajaran.
  • Menentukan indikator keberhasilan.
  • Menghubungkan training dengan target organisasi.

TNA juga dapat membantu HR atau learning and development team menyusun training plan yang lebih sistematis.

Training Tidak Selalu Menjadi Solusi

Ini merupakan prinsip penting dalam TNA.

Tidak semua masalah kinerja disebabkan oleh kekurangan kompetensi.

Misalnya produktivitas karyawan rendah.

Penyebabnya bisa saja:

  • Karyawan belum memiliki keterampilan.
  • Prosedur kerja tidak jelas.
  • Sistem terlalu lambat.
  • Beban kerja terlalu tinggi.
  • Target tidak realistis.
  • Peralatan tidak memadai.
  • Komunikasi antarunit buruk.
  • Insentif tidak sesuai.
  • Atasan tidak memberikan arahan.
  • Struktur organisasi tidak efektif.

Jika masalah sebenarnya adalah sistem yang buruk, memberikan training kepada karyawan belum tentu menyelesaikan masalah.

Karena itu, TNA harus dimulai dengan diagnosis.

Hubungan TNA dengan Competency Gap

Competency gap merupakan salah satu konsep utama dalam Training Needs Analysis.

Kesenjangan dapat dilihat dari beberapa aspek.

Kompetensi Standar Aktual Gap Prioritas
Leadership 5 3 2 Tinggi
Data Analysis 5 2 3 Sangat Tinggi
Communication 4 3 1 Sedang
Problem Solving 5 2 3 Sangat Tinggi

Dari tabel tersebut, Data Analysis dan Problem Solving memiliki gap paling besar.

Namun, besarnya gap bukan satu-satunya faktor.

Prioritas juga perlu mempertimbangkan:

  • Dampak terhadap organisasi.
  • Urgensi.
  • Jumlah karyawan terdampak.
  • Risiko jika tidak diperbaiki.
  • Ketersediaan solusi.
  • Biaya pengembangan.

Tiga Level Analisis dalam Training Needs Analysis

TNA umumnya dapat dilakukan melalui tiga tingkat analisis utama.

Analisis Organisasi

Analisis organisasi melihat kebutuhan kompetensi dari perspektif perusahaan.

Pertanyaan yang perlu dijawab:

  • Apa tujuan organisasi?
  • Apa strategi bisnis?
  • Apa target tahun berjalan?
  • Apa perubahan yang akan terjadi?
  • Kompetensi apa yang diperlukan?
  • Apa masalah kinerja utama?

Misalnya perusahaan akan melakukan transformasi digital.

Maka kebutuhan kompetensi dapat meliputi:

  • Digital literacy.
  • Data analysis.
  • Technology adoption.
  • Cybersecurity awareness.
  • Digital leadership.

Analisis Pekerjaan

Analisis pekerjaan melihat kompetensi yang diperlukan untuk menjalankan suatu posisi.

Misalnya seorang Procurement Officer membutuhkan:

  • Pemahaman proses pengadaan.
  • Contract management.
  • Vendor management.
  • Negotiation.
  • Documentation.
  • Risk awareness.

Dari analisis tersebut dapat diketahui kompetensi yang harus dikembangkan.

Analisis Individu

Analisis individu melihat siapa yang membutuhkan pengembangan.

Data dapat berasal dari:

  • Performance appraisal.
  • Assessment.
  • Wawancara.
  • Observasi.
  • Tes.
  • Feedback atasan.
  • Self-assessment.

Dengan demikian, perusahaan tidak perlu memberikan training yang sama kepada semua karyawan.

Langkah-Langkah Melakukan Training Needs Analysis

TNA dapat dilakukan melalui beberapa tahap sistematis.

Menentukan Tujuan Organisasi

Langkah pertama adalah memahami arah organisasi.

Misalnya perusahaan memiliki target:

Meningkatkan produktivitas operasional sebesar 15%.

Target tersebut kemudian diterjemahkan menjadi kebutuhan kompetensi.

Jika produktivitas berkaitan dengan efisiensi proses, perusahaan dapat membutuhkan kompetensi:

  • Process improvement.
  • Data analysis.
  • Problem solving.
  • Digital tools.

Mengidentifikasi Permasalahan

Selanjutnya, identifikasi masalah yang terjadi.

Contoh:

  • Banyak pekerjaan terlambat.
  • Kesalahan laporan meningkat.
  • Keluhan pelanggan bertambah.
  • Target penjualan tidak tercapai.
  • Turnover tinggi.

Namun, jangan langsung menyimpulkan bahwa masalah tersebut disebabkan oleh kurangnya kompetensi.

Lakukan diagnosis terlebih dahulu.

Menentukan Kompetensi yang Dibutuhkan

Buat daftar kompetensi yang diperlukan untuk mencapai target.

Misalnya:

Posisi Kompetensi
Supervisor Leadership, Coaching, Communication
Finance Staff Accounting, Data Analysis, Reporting
HR Staff Recruitment, HR Analytics, Employee Relations
Sales Negotiation, Presentation, Customer Management
IT Staff Cybersecurity, System Administration, Data

Mengukur Kompetensi Aktual

Setelah standar ditentukan, ukur kondisi aktual.

Metode yang dapat digunakan:

  • Assessment.
  • Tes tertulis.
  • Praktik.
  • Observasi.
  • Wawancara.
  • Performance review.
  • 360-degree feedback.
  • Self-assessment.

Menghitung Competency Gap

Bandingkan kondisi aktual dengan standar.

Contoh:

Standar = Level 5

Aktual = Level 3

Gap = 2

Jika gap cukup besar dan berpengaruh terhadap pekerjaan, kompetensi tersebut dapat menjadi prioritas training.

Menentukan Prioritas

Tidak semua gap harus ditangani sekaligus.

Gunakan kriteria:

  • Urgensi.
  • Dampak.
  • Risiko.
  • Jumlah karyawan.
  • Target organisasi.
  • Biaya.

Prioritas dapat dibagi menjadi:

Prioritas Tinggi: Harus segera dikembangkan.

Prioritas Sedang: Dikembangkan dalam periode berikutnya.

Prioritas Rendah: Dapat dikembangkan melalui pembelajaran mandiri.

Metode Pengumpulan Data TNA

Kualitas hasil TNA sangat bergantung pada kualitas data.

Beberapa metode yang dapat digunakan adalah:

Wawancara

HR dapat melakukan wawancara dengan:

  • Direksi.
  • Manajer.
  • Supervisor.
  • Karyawan.
  • Subject matter expert.

Pertanyaan dapat berfokus pada masalah pekerjaan dan kompetensi.

Kuesioner

Kuesioner dapat digunakan untuk mengumpulkan data dari banyak karyawan.

Contoh pertanyaan:

  • Kompetensi apa yang paling sulit digunakan?
  • Apa hambatan dalam pekerjaan?
  • Training apa yang pernah diikuti?
  • Kompetensi apa yang ingin dikembangkan?
  • Apa kebutuhan pekerjaan dalam enam bulan ke depan?

Observasi

Observasi dilakukan dengan melihat pekerjaan secara langsung.

Metode ini berguna untuk pekerjaan yang bersifat praktis.

Performance Review

Data penilaian kinerja dapat menjadi sumber penting.

Jika karyawan memiliki masalah pada indikator tertentu, analisis lebih lanjut dapat menentukan apakah masalah tersebut terkait kompetensi.

Assessment

Assessment dapat digunakan untuk mengukur kompetensi secara lebih objektif.

Analisis Data Kinerja

Data KPI dapat digunakan untuk mencari pola.

Contohnya:

  • Produktivitas turun.
  • Error meningkat.
  • Waktu proses bertambah.
  • Customer complaint meningkat.

Data tersebut menjadi sinyal untuk melakukan analisis lebih lanjut.

Contoh Kuesioner Training Needs Analysis

Perusahaan dapat menggunakan pertanyaan seperti:

  1. Apa tugas yang paling sulit Anda lakukan?
  2. Kompetensi apa yang paling Anda butuhkan?
  3. Apa hambatan utama dalam pekerjaan?
  4. Apakah Anda pernah mengikuti training terkait?
  5. Seberapa percaya diri Anda terhadap kompetensi tersebut?
  6. Materi apa yang menurut Anda paling dibutuhkan?
  7. Metode pembelajaran apa yang paling efektif?
  8. Apa target kompetensi yang ingin dicapai?

Jawaban kemudian dapat dikelompokkan untuk mencari kebutuhan umum.

TNA untuk Berbagai Level Karyawan

Kebutuhan training tidak selalu sama berdasarkan level jabatan.

Staff

Fokus dapat berupa:

  • Technical skills.
  • Software.
  • Data.
  • Administration.
  • Communication.

Supervisor

Fokus dapat berupa:

  • Leadership.
  • Delegation.
  • Coaching.
  • Team management.
  • Performance management.

Manager

Fokus dapat berupa:

  • Strategic management.
  • Decision making.
  • Risk management.
  • Financial management.
  • Change management.

Executive

Fokus dapat berupa:

  • Strategic leadership.
  • Business strategy.
  • Governance.
  • Risk.
  • Organizational transformation.

Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat menghindari program pelatihan yang terlalu umum.

TNA untuk In-House Training

TNA sangat penting ketika perusahaan ingin menyelenggarakan in-house training.

Sebelum menentukan judul training, perusahaan sebaiknya mengidentifikasi kebutuhan.

Misalnya perusahaan mengatakan:

“Kami membutuhkan leadership training.”

Pertanyaan selanjutnya:

  • Untuk siapa?
  • Masalah leadership apa yang terjadi?
  • Kompetensi apa yang kurang?
  • Apa target perubahannya?

Setelah dianalisis, kebutuhan mungkin lebih spesifik.

Contohnya:

Supervisor membutuhkan peningkatan kompetensi dalam delegasi, feedback, coaching, dan performance management.

Maka judul program dapat dirancang:

Effective Supervisor Leadership & Performance Management

Judul dan materi menjadi lebih relevan.

Contoh Kasus Training Needs Analysis

Sebuah perusahaan memiliki 50 supervisor.

Manajemen menemukan bahwa pencapaian target tim berbeda-beda.

Sebagian supervisor mampu mencapai target, sedangkan sebagian lainnya mengalami kesulitan.

Manajemen awalnya ingin memberikan leadership training.

Namun, HR melakukan TNA.

Hasilnya menunjukkan bahwa masalah utama bukan hanya leadership.

Terdapat tiga gap:

  1. Delegation.
  2. Performance monitoring.
  3. Problem solving.

Selain itu, ditemukan bahwa beberapa supervisor belum memahami indikator kinerja tim.

Berdasarkan hasil tersebut, perusahaan menyusun training:

Supervisor Performance & Leadership Development

Materi:

  • Leadership mindset.
  • Goal setting.
  • KPI.
  • Delegation.
  • Coaching.
  • Performance monitoring.
  • Problem solving.

Peserta kemudian diminta membawa satu masalah aktual dari unit kerja mereka.

Masalah tersebut digunakan sebagai studi kasus.

Dengan pendekatan TNA, training menjadi jauh lebih spesifik dibandingkan hanya menyelenggarakan “Leadership Training”.

TNA untuk Transformasi Digital

Transformasi digital merupakan contoh kebutuhan yang membutuhkan analisis kompetensi.

Perusahaan yang menggunakan sistem baru tidak otomatis berhasil hanya karena sistem sudah tersedia.

Karyawan perlu memiliki kompetensi untuk menggunakannya.

TNA dapat mengidentifikasi:

  • Siapa yang membutuhkan training.
  • Level kemampuan digital.
  • Software yang harus dikuasai.
  • Proses kerja yang berubah.
  • Hambatan adopsi teknologi.

Contohnya, perusahaan menerapkan dashboard digital.

Namun, sebagian karyawan belum mampu melakukan data preparation.

Maka kebutuhan training bukan sekadar “Digital Transformation”, tetapi dapat lebih spesifik menjadi:

Data Preparation & Dashboard Training

TNA untuk Pengembangan Leadership

Leadership merupakan area yang sering membutuhkan analisis lebih mendalam.

Seorang manager mungkin memiliki kemampuan teknis tinggi, tetapi belum tentu memiliki kemampuan leadership yang kuat.

TNA dapat mengukur:

  • Communication.
  • Delegation.
  • Coaching.
  • Decision making.
  • Conflict management.
  • Strategic thinking.
  • Team development.

Hasilnya dapat digunakan untuk menyusun leadership development program.

TNA dan Career Development

TNA juga dapat dihubungkan dengan pengembangan karier.

Jika perusahaan memiliki rencana promosi, maka kompetensi calon pemimpin perlu dipetakan.

Contoh:

Seorang supervisor diproyeksikan menjadi manager.

Kompetensi saat ini:

  • Technical Skill: Tinggi.
  • Leadership: Sedang.
  • Strategic Thinking: Rendah.
  • Financial Understanding: Sedang.

Dari hasil tersebut, program pengembangan dapat dirancang.

Bukan hanya training, tetapi juga:

  • Coaching.
  • Mentoring.
  • Job assignment.
  • Project.
  • Job rotation.

Dengan demikian, TNA dapat menjadi bagian dari sistem talent development.

TNA Bukan Hanya Tugas HR

Walaupun HR atau Learning and Development biasanya menjadi koordinator, TNA sebaiknya melibatkan berbagai pihak.

Pihak yang dapat dilibatkan:

  • Direksi.
  • HR.
  • Manager.
  • Supervisor.
  • Subject matter expert.
  • Karyawan.
  • Trainer atau konsultan.

Manager sangat penting karena memahami kondisi pekerjaan.

Karyawan juga penting karena mereka mengalami langsung hambatan pekerjaan.

Kolaborasi berbagai pihak menghasilkan analisis yang lebih komprehensif.

Menghubungkan TNA dengan KPI

TNA akan lebih kuat jika dikaitkan dengan KPI.

Contohnya:

KPI: Waktu penyelesaian laporan maksimal 2 hari.

Kondisi aktual: 4 hari.

Analisis: Sebagian staf belum menguasai pengolahan data dan proses masih manual.

Intervensi: Training data processing dan workflow improvement.

Target: Waktu proses turun menjadi maksimal 2 hari.

Dengan cara ini, training memiliki hubungan langsung dengan kinerja.

Menentukan Apakah Solusinya Training

Setelah TNA selesai, organisasi perlu menjawab pertanyaan penting:

Apakah training merupakan solusi terbaik?

Gunakan analisis berikut.

Masalah Kemungkinan Penyebab Solusi
Kesalahan tinggi Kompetensi rendah Training
Sistem lambat Teknologi Perbaikan sistem
Target tidak tercapai Target tidak realistis Review target
Proses panjang SOP tidak efektif Process improvement
Motivasi rendah Leadership/engagement Coaching/management
Skill kurang Knowledge gap Training

Tabel tersebut menunjukkan bahwa training hanya salah satu jenis intervensi.

Menyusun Training Plan Berdasarkan Hasil TNA

Setelah kebutuhan diketahui, hasil TNA dapat diterjemahkan menjadi training plan.

Contoh:

Kebutuhan Peserta Program Durasi Prioritas
Leadership Supervisor Leadership Development 2 Hari Tinggi
Data Staff Data Analysis 2 Hari Tinggi
Communication Frontliner Customer Communication 1 Hari Sedang
Risk Manager Risk Management 2 Hari Tinggi

Training plan dapat digunakan sebagai dasar penyusunan anggaran tahunan.

Evaluasi Hasil Training Berdasarkan TNA

TNA tidak berhenti setelah training selesai.

Hasil pelatihan perlu dibandingkan dengan kebutuhan awal.

Misalnya:

Gap sebelum training: 3 level.

Target setelah training: Gap turun menjadi 1 level.

Kemudian perusahaan melakukan assessment ulang.

Jika target belum tercapai, organisasi dapat memberikan intervensi tambahan.

Misalnya:

  • Coaching.
  • Mentoring.
  • Advanced training.
  • Job assignment.
  • Practice project.

Kesalahan dalam Melakukan Training Needs Analysis

Beberapa kesalahan yang perlu dihindari antara lain:

Hanya Mengandalkan Permintaan Karyawan

Karyawan dapat menyampaikan kebutuhan, tetapi belum tentu kebutuhan tersebut merupakan prioritas organisasi.

Tidak Melibatkan Atasan

Atasan memahami tuntutan pekerjaan dan target unit.

Tidak Menggunakan Data

TNA sebaiknya didukung data kinerja.

Semua Masalah Dianggap Masalah Training

Tidak semua masalah dapat diselesaikan melalui training.

Tidak Menentukan Prioritas

Jika semua kebutuhan dianggap penting, organisasi akan kesulitan menentukan anggaran.

Tidak Melakukan Evaluasi Ulang

Kebutuhan kompetensi dapat berubah sehingga TNA perlu dilakukan secara berkala.

Checklist Training Needs Analysis

Gunakan checklist berikut:

  • Tujuan organisasi sudah diketahui.

  • Target unit kerja sudah dipetakan.

  • Masalah kinerja sudah diidentifikasi.

  • Kompetensi yang dibutuhkan sudah ditentukan.

  • Kompetensi aktual sudah diukur.

  • Competency gap sudah dihitung.

  • Penyebab gap sudah dianalisis.

  • Prioritas sudah ditentukan.

  • Peserta sudah diidentifikasi.

  • Jenis training sudah ditentukan.

  • Metode pembelajaran sudah dirancang.

  • Indikator keberhasilan sudah ditentukan.

  • Evaluasi pascapelatihan sudah direncanakan.

FAQ Training Needs Analysis

Apa yang dimaksud dengan Training Needs Analysis?

Training Needs Analysis adalah proses sistematis untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan berdasarkan kesenjangan antara kompetensi yang dibutuhkan dengan kompetensi aktual individu, tim, atau organisasi.

Apakah semua masalah kinerja harus diselesaikan dengan training?

Tidak. Masalah kinerja dapat disebabkan oleh kompetensi, sistem, SOP, teknologi, beban kerja, kepemimpinan, target, maupun faktor lainnya. Training hanya tepat jika masalahnya memang berkaitan dengan kompetensi yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran.

Siapa yang bertanggung jawab melakukan TNA?

HR atau Learning and Development biasanya menjadi koordinator, tetapi TNA idealnya melibatkan manajemen, atasan langsung, karyawan, dan subject matter expert agar hasil analisis lebih akurat.

Kapan perusahaan perlu melakukan Training Needs Analysis?

TNA dapat dilakukan sebelum menyusun program pelatihan tahunan, ketika terjadi perubahan teknologi atau proses bisnis, ketika kinerja menurun, saat perusahaan mengembangkan jabatan baru, atau ketika organisasi membutuhkan kompetensi baru.

Kesimpulan

Training Needs Analysis merupakan fondasi penting dalam pengembangan kompetensi SDM. Dengan TNA, perusahaan dapat menentukan kebutuhan pelatihan berdasarkan data dan kesenjangan kompetensi, bukan sekadar mengikuti tren atau permintaan pelatihan.

Proses TNA dimulai dari pemahaman terhadap tujuan organisasi, identifikasi masalah, pemetaan kompetensi, pengukuran kompetensi aktual, analisis competency gap, penentuan prioritas, hingga penyusunan program pengembangan.

Hal yang paling penting adalah memahami bahwa tidak semua masalah kinerja merupakan masalah kompetensi. Sebelum menentukan training, organisasi perlu memastikan penyebab masalah terlebih dahulu.

Jika masalah memang disebabkan oleh knowledge gap atau skill gap, training dapat menjadi solusi yang tepat.

Namun, jika masalah disebabkan oleh sistem, teknologi, SOP, struktur organisasi, target, atau faktor manajemen, maka intervensinya harus disesuaikan.

Dengan TNA yang dilakukan secara sistematis, anggaran training dapat digunakan secara lebih efektif dan program pengembangan SDM dapat memiliki hubungan yang lebih jelas dengan kebutuhan organisasi.

Pada akhirnya, tujuan TNA bukan sekadar menemukan pelatihan yang harus diselenggarakan, tetapi memastikan investasi pengembangan SDM benar-benar menghasilkan peningkatan kompetensi dan kinerja organisasi.

Jika perusahaan Anda membutuhkan bantuan dalam melakukan Training Needs Analysis, pemetaan competency gap, penyusunan training plan, in-house training, maupun program pengembangan kompetensi SDM, konsultasikan kebutuhan organisasi Anda dan susun program pelatihan yang tepat sasaran, terukur, dan relevan dengan target kinerja.

author-avatar

About PSKN

PUSAT PENGEMBANGAN SDM DAN TEKNOLOGI INFORMASI ( TI ) TERBAIK YANG TERLETAK DI KOTA JAKARTA PUSAT